Informasi

Inilah Kebijakan Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru 2019




Kebijakan SNMPTN dan SBMPTN 2019

Seleksi penerimaan mahasiswa baru pada tahun 2019 nanti mengalami beberapa perubahan. Berikut ini infomasi seputar penerimaan mahasiswa baru 2019:

1.  Kuota SNMPT, SBMPTN, dan Jalur Mandir
Kuota untuk jalur SNMPTN (Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri) berkurang 10% menjadi minimal 20% sedangkan untuk jalur SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk PTN) ditambah 10% menjadi minimal 40%. Untuk jalur Mandiri tetap maksimal 30%. Pengurangan kuota jalur SNMPTN dilakukan sesuai hasil evaluasi penerimaan mahasiswa tahun ini. Dimana, hanya 20% nilai IPK dari mahasiswa dari jalur SNMPTN yang di atas rata-rata.

Perubahan formasi tersebut dilakukan setelah 2 tahun menerapkan formasi minimal 30% untuk masing-masing jalur SNM/SBMPTN dan maksimal 30% jalur Mandiri. Kuota untuk jalur SNMPTN atau penelusuran prestasi ini terus berkurang, pada 2016 mencapai minimal 40%. Dengan komposisi 20:40:30, berarti ada 10% kuota tersisa untuk menggenapkan 100% kuota. Dan, 10% kuota yang tersisa itu tak boleh dialokasikan pada jalur Mandiri.

2. Seleksi SBMPTN 2019 
Untuk Jalur Seleksi SBMPTN 2019 nantinya menggunakan satu metode tes, yaitu Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Tidak ada lagi tes yang menggunakan kertas. Dan metode ujian berbasis Android yang telah diujicobakan pada SBMPTN 2018, untuk sementara belum diterapkan.

Kalau sebelumnya calon mahasiswa mendaftar dengan full terlebih dahulu, termasuk memilih program studi. Tahun 2019, calon masiswa yang akan melamar diberikan kesempatan untuk mengikuti tes terlebih dahulu Tes yang dilakukan di awal ini akan dibagi ke dalam berbagai gelombang dengan waktu yang sama. Kemungkinan akan ada dua belas kali tes. Dalam kurun waktu kurang lebih dua bulan setiap hari Sabtu dan Minggu.

Usai melakukan ujian, peserta memasuki tahap selanjutnya dengan memilih jurusan yang ingin dimasuki. Dulu satu hari dilakukan sehari dengan bersama-sama dan setelah siswa memilih jurusan.

3. Mekanisme daftar dan tes SBMPTN
Untuk mekanisme pendaftaran masuk PTN. Untuk SBMPTN, tes tidak akan lagi digelar serentak di masing-masing kampus tujuan. Jadi, tahun 2019 tidak ada sistem Panitia Lokal lagi, semua akan terpusat oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT). Para calon mahasiswa jalur tersebut harus mengikuti ujian tulis berbasis komputer yang diselenggarakan Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT).

LTMPT sendiri merupakan lembaga nirlaba yang berperan menyelenggarakan tes masuk bagi pelamar PTN. Lembaga ini memegang dua tugas utama yaitu mengelola dan mengolah data pelamar untuk bahan seleksi jalur SNMPTN maupun SBMPTN serta melaksanakan UTBK. LTMPT merupakan pembaruan dari Panpus SNPMB PTN.

Setiap siswa bisa mengikuti ujian yang digelar LTMPT maksimal sebanyak 2 kali. Tes yang digelar LTMPT akan digelar Maret-Juni 2019, sebanyak 24 kali. Nanti nilai yang dia dapat, dipakai untuk mendaftar ke kampus tujuan. Adapun bentuk tes terbagi ke dalam 2 format. Yakni, Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes Kompetensi Akademik (TPA).

4. Materi ujian UTBK SBMPTN 2019 
UTBK SBMPTN 2019 memiliki dua materi ujian antara lain Tes Potensi Skolastik (TPS) dan Tes Kompetensi Akademik (TKA) dengan kelompok ujian Saintek dan Soshum.

Tes Potensi Skolastik bertujuan mengukur kemampuan kognitif peserta atau kemampuan penalaran dan pemahaman umum yang dianggap penting untuk keberhasilan menempuh pembelajaran di perguruan tinggi. Adapun TKA mengukur pengetahuan peserta akan materi yang telah diajarkan di sekolah. Materi TKA terdiri atas sejumlah soal yang mengukur Higher Order Thinking Skills (HOTS).

5. Penghapusan tes keterampilan
LTMPTN menghapus tes keterampilan pada SBMPTN (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri) 2019 jurusan Seni dan Keolahragaan. Namun, calon mahasiswa wajib menyertakan portofolio prestasi atau penghargaan yang sesuai dengan jurusan yang akan dilamar. Jadi, bila dulu terdiri atas tes seni dan olah raga, pada 2019 diganti sistem portofolio. Untuk itu, pendaftar diimbau menyiapkan segala dokumen, baik berupa piagam, sertifikat meskipun belum lulus sekolah.


share to whatsapp