Cara Mengasah Kecerdasan Logika Matematika Anak dengan Bermain Peran





Sudah berapa kali kita jumpai anak yang sedang berpura-pura menjadi orang dewasa saat bermain? Mereka tampak sangat menikmati waktu untuk bercengkrama sambil membawa alat masak dan membawa boneka bayi di pangkuannya. Bahkan mencoba untuk menjadi seorang ibu yang menjaga anak-anaknya.

Kegiatan ini disebut juga bermain peran. Bagi orang dewasa mungkin ini suatu hal yang aneh, tapi bagi anak inilah saatnya mereka sedang menggunakan imajinasi/daya khayalnya untuk berada di  lingkungan seperti orang dewasa yang sering ia lihat. 

Pada saat bermain peran, anak belajar bagaimana rasanya menjadi orang lain. Selain itu, bermain peran juga mengembangkan aspek perkembangan anak yang meliputi aspek moral agama, kognitif , fisik motorik, bahasa, sosial emosi dan seni.

Selain mengembangkan 6 aspek perkembangan, bermain peran juga dapat mengembangkan kecerdasan jamak. Yaitu, salah satunya kecerdasan logika matematika yang mengembangkan perkembangan kognitifnya dimana anak mampu mempelajari sebab akibat, mengkategorisasi, dan klasifikasi apa yang dihadapinya, aktivitas berhitung sampai pemecahan masalah dalam bermain. 

Lalu bagaimana cara menerapkannya? Peran yang bisa dicoba untuk diperankan yaitu menjadi seorang pedagang pizza. Peran ini menarik karena anak akan belajar menyiapkan barang dagangan, tempat ia berjualan dan bernegosiasi saat terjadinya transaksi jual beli.

Media yang bisa kita siapkan yaitu :
- Playdough 4 warna (putih untuk adonan pizza, merah untuk duplikasi daging, kuning untuk keju dan hijau untuk paprika)
- Potongan triplek/kardus/dupleks ukuran 8x8 cm, sebagai alas pizza
- Lego atau  dus kecil sebagai miniature oven
- Kartu angka sebagai kartu pesanan bagi pembeli

Lalu kecerdasan logika matematika apasaja yang anak dapatkan dari kegiatan ini?

Pertama, anak mengetahui sebab akibat saat pizza dipanggang maka pizza itu akan matang dan siap dimakan. Selain itu, saat ada pembeli datang untuk memesan pizza ia harus menyiapkan sesuai dengan pesanan nya

Kedua, anak mengkategorisasi dan mengkasifikasi bahan yang disediakan seperti memilah mana adonan pizza, potongan keju, paprika dan daging serta membedakan pesanan beberapa pelanggan.

Ketiga, anak melakukan aktivitas berhitung saat ada pelanggan yang memesan dengan menghitung topping (keju, daging dan paprika) yang diinginkan pelanggan sesuai kartu yang disiapkan.

Keempat, anak belajar pemecahan masalah yang dihadapi saat ada pelanggan yang complain terkait jumlah topping yang tidak sesuai sehingga ia akan menghitung ulang sesuai pesanan pelanggan.

Yang perlu tanamkan dalam mengasah kecerdasan logika matematik bukan hanya sekedar  mengasah kemampuan berhitung 1-20 saja namun bagaimana orangdewasa membangun pola pikir anak yang akan ia perlukan dalam mengatasi masalah dalam kehidupan nya.

Selain itu, ketika bermain peran, orang dewasa hanya memberi saran/menfasilitasi tema peran yang akan dimainkan anak, namun perlu menyesuaikan dengan apa yang ia sukai karena pada dasarnya bermain itu sesuatu yang datang tanpa paksaan dan kegiatan yang menyenangkan bagi anak. **(Lili Aprianti)