Tahun 2021, Iuran Bagi Peserta JKN-KIS Mandiri Kelas 3 Jadi Rp35.000





Tahun 2021, Pemerintah tetap memberikan bantuan iuran kepada peserta Jaminan  Kesehatan  Nasional  (JKN-KIS)  segmen  Pekerja  Bukan  Penerima  Upah  (PBPU)  atau peserta mandiri dan Bukan Pekerja (BP) kelas 3. Ketentuan ini sesuai dengan amanah Peraturan Presiden Nomor 64 Tahun 2020 yang mengatur penyesuaian besaran iuran peserta Program JKN-KIS. Hal tersebut disampaikan Deputi Direksi Bidang Manajemen Iuran BPJS Kesehatan Ni Made Ayu Ratna Sudewi, Selasa (22/12).

“Sebagai  wujud  perhatian  dan  kepedulian  pemerintah  terhadap  kondisi  finansial  masyarakat, Pemerintah masih menetapkan kebijakan khusus untuk peserta PBPU dan BP kelas 3. Pada tahun 2021 dan tahun berikutnya, peserta PBPU dan BP kelas 3 hanya membayar iuran Rp35.000 dari yang  seharusnya  Rp42.000,  sementara  sisanya  pemerintah  tetap  memberikan  bantuan  iuran sebesar Rp 7.000,” tambahnya.

Ratna  mengungkapkan,komitmen  Pemerintah  dalam  menjaga  keberlangsungan  Program  JKN-KIS  serta  upaya  memperkuat  Dana  Jaminan  Sosial  (DJS)  Kesehatan tersebut perlu  dukungan semua   pihak.   Hal   ini   penting, terlebihbangsa   Indonesia   saat   ini   tengah   berupaya   untuk memulihkan kondisi kesehatan masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

“Dengan DJS Kesehatan yang cukup, pembayaran klaim sampai dengan saat ini sudah berjalan dengan  tertib  sesuai  dengan  jatuh  tempo.  Sehingga  diharapan  tidak  akan  menghambat  fasililtas kesehatan dalam pemberian pelayanan kesehatan serta akan mendorong dalam mengoptimalkan kualitas dan perbaikan layanan bagi peserta JKN-KIS,” kata Ratna Sudewi.

Sementara  itu,  Staf  Khusus  Menteri  Keuangan  RI  Yustinus  Prastowo  mengungkapkan di  tahun 2020, Pemerintah sudah memberikan bantuan iuran bagi peserta PBPU-BP kelas 3 yang berstatus aktif  serta  untuk  bantuan  iuran  bagi  peserta  yang  didaftarkan  oleh  Pemerintah  Daerah.  Sampai dengan saat ini, realisasi bantuan iuran JKN-KIS ini mencapai 2,7 triliun.

Di  tahun  2021,  Pemerintah  telah  menyiapkan  anggaran  untuk  bantuan  iuran  PBPU-BP  kelas  3 sebesar  Rp2,4  triliun,  atau  dengan  kata  lain  untuk  keberlanjutan  bantuan  iuran  di  2021  sesuai amanah Perpres 64/2020.

“Secara keseluruhan Pemerintah telah menyiapkan alokasi anggarannya sebesar  Rp51,2  triliun atau  30,1%  dari  anggaran  kesehatan  2021  untuk  Program  JKN-KIS.  Termasuk  didalamnya bantuan  iuran  peserta  Penerima  Bantuan  Iuran  (PBI)  sebesar  96,8  juta  jiwa  dengan  anggaran Rp48,8 triliun,” kata Yustinus.

Yustinus  menegaskan,  bahwa  Pemerintah  saat  ini  juga  terus  fokus  memperkuat  anggaran perlindungan  sosial   bagi  masyarakat. Bantuan  iuran  bagi   peserta  JKN-KIS   di  tahun   2021 merupakan satu dari sekian banyak program bantuan sosial yang digulirkan Pemerintah.

“Jadi diharapkan semua pihak memahami bahwa penyesuaian iuran PBPU kelas 3di tahun 2021jangan  hanya  dianggap  sebagai  suatu  hal  yang  memberatkan. Pemerintah  juga  hadir  dalam bentuk  program  bantuan  sosial  lainserta  anggaran  kesehatan  di  masa  mendatang khususnya  dalam   penanggulangan   Covid-19.Bahkan   skema   Dana   Bagi   Hasil Cukai HasilTembakau (DBHCHT) kini sudah berorientasi pada kesehatan,” jelas Yustinus.Yustinus  menjelaskan.

DBHCHT  di  tahun  2021  akan  berfokus  pada  aspek  kesehatan  seperti bantuan  iuran program JKN-KIS, optimalisasiprogram promotif  dan  preventif  kesehatan,  upaya penurunan stunting dan  penanganan   Covid-19,   serta   peningkatan   sarana   dan   prasarana kesehatan.   Selain   itu   DBHCHT   juga   dialokasikan   untuk kesejahteraan   petani   dan   buruh tembakau, serta penegakan hukum.

Di   sisi lain, Kepala Pusat   Kajian   Antikorupsi Universitas   Gajah   Mada  (UGM) Oce   Madril, mengungkapkan Pemerintah  dan  BPJS  Kesehatan  harus  mengimplementasikan  hal-hal  yang diatur dalam   Perpres   64/2020   ini.

Madril   mengungkapkan dalam   Perpres   ini   tentu sudah memperhatikan 2 asas utama yaitu asas proporsionalitas dan asas kemanfaatan.

“Asas  proporsional,  bahwa  iuran  JKN ini harus  memperhatikan  kemampuan  anggaran  dan  . Sementara, adanya kebijakan tersebut ada kemanfaatan bagi publik. Satu prinsip lagi yang telah diperhatikan dalam Perpres yaitu prinsip gotong royong artinya ada kebersamaan  antar  peserta  dalam menanggung pembiayaan jaminan  kesehatan,”  jelas Madril.