Bersepeda, Touring, Hingga Botram Jadi Favorit Wisata Saat New Normal





wisata bersepeda bandung

Stay at home atau berdiam diri di rumah demi mencegah penyebaran pandemi virus Covid-19 dari bulan Maret 2020 tak dapat dipungkiri bagi sebagian besar masyarakat sungguh membosankan. Tentunya kejenuhan melanda di mana selama beberapa bulan terakhir warga harus menghabiskan waktu di rumah, dari belajar di rumah sampai kerja di rumah. Selain kejenuhan, tentunya efek lain yang terasa bagi sebagian besar masyarakat adalah berkurangnya urusan finansial.

Di akhir Juni 2020 ini saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di sebagian wilayah dilonggarkan berlanjut ke era new normal, tempat-tempat wisata pun mulai dibuka. Namun, bagi sebagian masyarakat urusan wisata pun bisa jadi pertimbangan lain karena upaya menghemat budget. Maka buat melepaskan kepenatan itu pun kegiatan alternatif pun dipilih, dari bersepeda, touring motor, sampai botram.

Tren bersepeda di era new normal
Dan salah satu tren yang terjadi saat wabah ini mash belum usai adalah bersepeda. Di Bandung sendiri, kegiatan bersepeda oleh masyarakat ini pun termasuk booming. Indikatornya dengan banyaknya masyarakat yang bersepeda, baik di tengah kota maupun di kawasan wisata. Indikator lainnya, penjualan sepeda pun meningkat tajam dibanding hari-hari biasa sebelum pandemi melanda.

Adanya peningkatan pengguna sepeda ini untuk masyarakat sendiri selain kegiatan olahraga demi meningkatkan daya tahan tubuh, juga aja refreshing setelah beberapa bulan terpaksa diam di rumah. Masifnya kegiatan bersepeda dalam menjaga kesehatan saat pandemi, adanya aturan PSBB, hingga membaiknya fasilitas bersepeda menjadi salah faktor pendorong naiknya tren bersepeda saat ini.

Bahkan di Bandung sendiri, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung memaksimalkan layanan peminjaman sepeda atau bike sharing yang dinamai 'Boseh' yang sebelum pandemi pun sudah ada. Layanan tersebut dibuat untuk memfasilitasi warga agar bisa bersepeda di pusat Kota Bandung. Dishub Kota Bandung sudah membuka stasiun Boseh di berbagai tempat. Layanan penyewaan sepeda ini sendiri beroperasi setiap hari.

Untuk meminjam sepeda di Boseh, warga diharuskan daftar atau registrasi dulu. Proses registrasi dilakukan di both pendaftaran yang berada di tiga lokasi yakni di both Alun-alun Bandung, Taman Cibeunying, dan Seberang Museum Geologi.

Untuk melakukan pendaftaran, warga hanya cukup membawa identitas diri berupa kartu tanda penduduk (KTP). Adapun untuk warga yang belum memiliki KTP bisa menggunakan kartu pelajar, paspot, fotokopi Kartu Keluarga atau dokumen sah lainnya. Dalam pendaftaran ini, warga tak dipungut biaya. Selain identitas, warga pun harus membawa uang elektronik. Untuk saat ini, uang elektronik yang bisa digunakan hanya uang elektronik dari BRI, yakni BRIZZI.

Touring ke destinasi wisata alam
Selain bersepeda, tren lain di era pelonggaran PSBB ini adalah kegiatan touring motor. Hal ini terlihat saat tanggal 27 Juni 2020 ketika Jabar memutuskan masuk era new normal, beberapa kawasan di pinggiran kota Bandung ramai oleh para bikers yang berombongan memacu kendaraan roda duanya.

Seperti dari pantauan seputarbandungraya.com di ruas jalan ke arah Ciwidey pada Sabtu (27/96/2020),  rombongan motor besar sampai skutik memacu kendaraannya ke arah tempat-tempat wisata di Bandung Selatan tersebut. Juga rombongan touring ke arah Pangalengan pun mendominasi lalu lalang kendaraan, terutama di akhir pekan.

Dari wawancara dengan sebagian pemotor touring, ada beberapa di antaranya yang sengaja touring lewat Bandung Selatan untuk terus melanjutkan perjalanan ke kawasan wisata pantai di Garut Selatan, seperti Pantai Santolo, Pantai Rancabuaya, Pantai Sayang Heulang, dan lainnya.

Botram, makan bersama di alam terbuka
Fenomena lainnya, di kawasan perkebunan teh Rancabali, terlihat group-group wisatawan yang asyik makan bersama di area perkebunan dengan beralaskan tikar. Wisata botram alias makan bareng dalam tradisi masyarakat Sunda tersebut jadi alternatif buat melepas kejenuhan selama ini stay at home. Peluang ini pun ditangkap oleh masyarakat setempat sekitaran perkebunan teh dengan menyediakan penyewaan samak (tikar) dengan harga sewa dibanderol Rp25.000 denagan waktu sepuasnya.

Menurut penuturan salah seorang penyedia jasa menyewakan tikar ini, selama PSBB dilonggarkan penyewa tikar silih berganti dari pagi sampai sore hari. Dan ini berkah tersendir bagi para tukang sewa tikar tersebut. Karena selain menyewakan tikar, mereka pun bisa buka warung kecil-kecilan dengan menyediakan aneka makanan dan minuman yang kiranya dibutuhkan oleh penyewa-penyewa tikar.