Bandung dalam Kisah Perjalanan Hidup BJ Habibie, dari IPTN Sampai RS Ginjal

share to whatsapp




Perjalanan Sejarah BJ Habibie di Bandung

Indonesia diselubungi kabut duka dimana pada hari Rabu (11/09/2019) pkl. 18.05, salah satu putra terbaik bangsa telah meninggalkan dunia untuk selama-lamanya. Beliau menghembuskan napas terakhir di di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Sosok yang terselip di lirik lagu "Oemar Bakri"- Iwan Fals tersebut adalah permata Indonesia di mata dunia. BJ Habibie telah menjadi impian dan juga idaman setiap orang. Sosoknya kerap menjadi inspirasi buat para orang tua Indonesia yang mencita-citakan anaknya pintar dan sebaik beliau.

Sosok yang pintar, jenius, dan sangat diidolakan. Bukan hanya karena BJ Habibie menciptakan suatu industri pesawat terbang yang canggih. BJ Habibie disebut sebagai ”Pembawa abad teknologi ke Indonesia” atau sebagai “Dinamo Indonesia”. Ia pun dikenal sebagai pembuka demokratisasi di Indonesia di masa kepemimpinannya yang kurang lebih 1,5 tahun. Ia pun dikenal dengan julukan teknokrat "berotak Jerman, berhati Mekkah" karena kepintaran yang dibarengi keluhuran akhlaknya.

BJ Habibie bahwa semua yang bisa disaksikan sekarang ini, berupa industri pesawat terbang yang telah berhasil membuat CN-235 dan N-250, bukanlah hasil karya ia sendiri, melainkan karya dari seluruh putra-putri Indonesia yang bekerja di Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) di kawasan Andir, Bandung. BJ Habibie termasuk jenius dimana pada usia 24 tahun, ia telah berhasil meraih
gelar Diplom Ing dengan nilai cum-laude pada jurusan konstruksi pesawat terbang di Technische Honchschule Aachen.

Nama Habibie tak bisa dilepaskan dari Bandung. Beliau dalam perjalanan hidupnya pernah menjalani hari-harinya di Kota Kembang ini. Bukan hanya belajar dan mendirikan perusahaan IPTN (sekarang PT DI) dan Pindad, ia pun menemukan pujaan hatinya yang setia sampai akhir hayat, Ibu Ainun Habibie. Bahkan, salah satu kediaman tokoh Dirgantara ini pun berada di Bandung, tepatnya di kawasan Jln. Sersan Bajuri.

**
Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, FREng yang lahir di Parepare, Sulawesi Selatan, 25 Juni 1936, menikah dengan Hasri Ainun Besari pada tanggal 12 Mei 1962 di Jln. Rangga Malela, Bandung. Selanjutnya, akad nikah Habibie dan Ainun digelar secara adat dan budaya Jawa, sedangkan resepsi pernikahan digelar keesokan harinya dengan adat dan budaya Gorontalo di Hotel Preanger, Jln. Asia Afrika, Bandung.

Habibie alumnus SMPN 5 Bandung
Sosok yang dikenal dengan panggilan dikenal dengan sebutan Habibie atau Rudy ini waktu usia 13 tahun ditinggal wafat ayahnya. Setelah ayahnya meninggal tahun 1950, BJ Habibie sekeluarga pindah ke Bandung untuk melanjutkan pendidikannya. B. J. Habibie pernah sekolah TK dan SD di Kota Parepare dan Ujungpandang (Makassar). Kemudian, ia menyelesaikan sekolah menengah pertama di SMP Negeri 5 Bandung tahun 1951. Selain Habibie, alumnus sekolah di Jln. Sumatera no. 40, Bandung ini ada nama Iwan Fals dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).

Kisah cinta Habibie - Ainun di SMAK Dago
Ia lalu melanjutkan ke SMA Kristen Dago, Bandung tahun 1954. Pada awal 1962, BJ Habibie pulang ke Indonesia. Di sekolah ini, Habibie mulai terlihat menonjol prestasinya, terutama dalam pelajaran-pelajaran eksakta. BJ Habibie menjadi sosok favorit di sekolahnya. Di bangku sekolah ini, BJ Habibie adalah siswa paling muda usianya dan paling kecil perawakan di kelas, tetapi paling tinggi tinggi prestasinya, terutama dalam mata pelajaran eksakta.

Salah seorang guru BJ Habibie SMAK Dago adalah (Prof Dr) Dody Tisna Amidjaja, (pernah menjabat Rektor ITB), menggambarkan BJ Habibie sebagai murid yang mengesankan dan favorit di antara teman-temannya.38 Beberapa tahun kemudian, murid favorit ini menyusul gurunya belajar di Jerman. Hubungan mereka tidak pernah putus; ada ikatan batin yang kuat antara kedua tokoh yang semula guru-murid ini. BJ Habibie adalah pribadi yang berbudi, hormat kepada guru-gurunya, yang tidak hilang oleh panas dan surut karena waktu, serta berkurang karena tinggi kedudukan.

Suatu ketika saat berkesempatan kembali ke Indonesia, BJ Habibie berkesempatan untuk bertemu kembali dengan teman lamanya, masih juniornya di SMAK Dago Bandung, perempuan cantik, lulusan dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, bernama dr.Hasri Ainun Besari, putri keempat dari Bapak H. Mohammad Besari.

Pertemuan ini menumbuhkan cinta diantara keduanya. Dan akhirnya mereka menikah pada tanggal 12 Mei 1962. Gelar Doktor konstruksi pesawat terbang, predikat summa Cum Laude juga diraihnya pada tahun 1960-1965. Setelah menikah BJ Habibie kembali ke Jerman dengan membawa istri tercintanya tersebut. Dari pernikahannya, Habibie - Ainun dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham
Akbar dan Thareq Kemal. Adapun untuk asal sekolah SMA tempat BJ Habibie belajar tersebut, nasibnya memudar dan tak tahu nasibnya, apalagi setelah ada kasus sengketa lahan beberapa tahun ke belakang.

Habibie kuliah di ITB
Habibie kemudian belajar tentang keilmuan teknik mesin di Fakultas Teknik Universitas Indonesia Bandung (sekarang Institut Teknologi Bandung) pada tahun 1954. Akan tetapi BJ Habibie kuliah di ITB kurang dari setahun. Atas usaha ibunya, melanjutkan studi ke Jerman. Pada tahun 1967, BJ Habibie menjadi Profesor Kehormatan (Guru Besar) pada Institut Teknologi Bandung.

Pada 1955–1965, Habibie melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang, di RWTH Aachen, Jerman Barat, menerima gelar diplom ingenieur pada 1960 dan gelar doktor ingenieur pada 1965 dengan predikat summa cum laude.

Habibie dan PT Nurtanio
Pada tahun 1973, Presiden Soeharto meminta BJ Habibie untuk pulang kembali ke Indonesia. Atas permintaan tersebut, pada tahun 1974, BJ Habibie bersedia pulang kembali ke Indonesia untuk memenuhi panggilan penguasa Orde Baru tersebut.

Sesampainya di Indonesia, BJ Habibie langsung ditugaskan untuk memimpin Divisi Advanced Technology Pertamina, yang merupakan cikal BPPT, tahun 1974-1978. Selain itu, BJ Habibie juga ditugaskan untuk segera membangun industri pesawat terbang di Bandung.

Dalam waktu dua tahun, PT Nurtanio (yang nantinya berubah nama menjadi IPTN kemudian jadi PT DI), sudah mulai beroperasi. Nama industri pesawat terbang tersebut diambil dari Marsekal Muda Udara (Anumerta) Nurtanio Pringgoadisuryo (dikenal juga dengan nama L.M.U Nurtanio, LMU Nurtanio), perintis industri penerbangan Indonesia.

Nurtario gugur pada suatu kecelakaan pesawat terbang pada tanggal 21 Maret 1966, ketika menerbangkan pesawat Aero 45 atau Arev. Pesawat ini sebenarnya akan digunakan untuk penerbangan keliling dunia. Namun, Nurtanio mengalami kecelakaan saat kerusakan mesin, dia berusaha untuk mendarat darurat di Lapangan Tegallega, Bandung namun gagal karena pesawatnya menabrak toko.

Di samping BJ Habibie merangkap pekerjaan pengembangan teknologi di perusahaan perminyakan strategis PT Pertamina, di Indonesia, sekaligus ia juga sebagai penasihat pemerintah Indonesia di bidang pengembangan teknologi dan pesawat terbang yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden Soeharto, pada tahun 1974-1978.

Sebagai informasi, perusaahan pembuat pesawat terbang di area Bandara Husein Sastranegara yang sekarang dikenal dengan PT Dirgantara Indonesia (DI) ini adalah industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara. Perusahaan ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. Perusahaan ini didirikan pada 26 April 1976 dengan nama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan BJ Habibie didapuk sebagai Presiden Direktur. PT DI tidak hanya memproduksi berbagai pesawat tetapi juga helikopter, senjata, menyediakan pelatihan dan jasa pemeliharaan (maintenance service) untuk mesin-mesin pesawat.

Dengan menggunakan hubungannya dengan perusahaan Jerman, dia memulai dengan merakit helikopter Messerschmitt di sebuah hangar di Bandung. Operasi ini diperluas dengan mempekerjakan 20,000 pekerja dalam membuat pesawat terbang turboprop berukuran kecil dan sedang. BJ Habibie merintis industri pesawat terbang dan galangan kapal serta beberapa industri strategis lain. Rencana yang spektakuler tersebut telah dirancang untuk pesawat terbang komersial buatan Indonesia dalam menyaingi perusahaan angkasa luar Eropa dan Amerika.

Salah satu dari sekian banyak kontribusi BJ Habibie di industri dirgantara Indonesia adalah pembuatan pesawat NC 212-100 sampai jadi NC 212-i yang sudah memilki teknologi autopilot dan jadi pesawat andalan PT DI. Pesawat itu merupakan pesawat berpenumpang 24 orang. Pesawat lainnya adalah CN 235 dimana setengah pesawat tersebut dirancang bangun oleh putra putri bangsa dan setengahnya lagi dibuat oleh perusahaan pembuat pesawat terbang dari Spanyol, CASA.

RS Khusus Ginjal
Pada Senin (08/08/2016), BJ.Habibie resmikan gedung baru Rumah Sakit Khusus Ginjal Ny. RA Habibie yang beralamat di , di Jln. Tubagus Ismail No. 46, Kota Bandung, pada Senin (08/08/2016). Selain peresmian gedung baru, acara ini pun sekaligus untuk memperingati hari  ulang tahun Rumah Sakit yang ke-28. Gedung yang baru akan digunakan sebagai tempat rawat inap, diklat, dan operasi. Sementara, untuk ruangan cuci darah ditempatkan di gedung lama.

Mantan Presiden RI ke-3 ini pun berharap dengan bertambahnya fasilitas di Rumah Sakit Khusus Ginjal Ny RA Habibie ini  bisa membantu sumber daya manusia Indonesia dalam hal kesehatan, karena dengan begitu manusia Indonesia bisa lebih baik dalam hal kesehatan sehingga bisa bekerja produktif dan menjadi manusia unggul. Rumah sakit tersebut sangat terbuka bagi pasien yang tidak mampu.

Hingga saat ini, rumah sakit tersebut rutin menangani ratusan pasien ginjal yang melakukan cuci darah. Di rumah sakit tersebut terdapat 60 unit mesin cuci darah yang sudah dijalankan secara semikomputer. 97 persen di antaranya merupakan pengguna BPJS yang dilayani oleh para dokter pelaksana harian.

Apabila pasien tidak mampu, pasien penderita ginjal tersebut bisa mendapatkan perawatan secara cuma-cuma. Jika ada pasien yang tidak punya BPJS dan memang tidak mampu, bisa difasilitasi dinas kesehatan terkait. Keberadaan rumah sakit khusus ginjal itu, menurut Habibie diharapkan bisa menjadi sumbangsih nyata dari keluarganya dalam rangka peningkatan kualitas layanan kesehatan untuk masyarakat.