Informasi

Data dan Fakta Masjid Al-Jabbar, Masjid Terapung di Gedebage




Desain Masjid Al Jabbar Gedebage

Didirikan di atas kolam retenasi yang luas, Masjid Al-Jabbar akan menjadi ikon baru di Jawa Barat. Berdiri di area seluas 25,9879 hektare masjid ini mengambil nama dari 99 Asmaul Husna yang artinya 'Mahakuasa", "Mahahebat", "Mahaperkasa". Masjid ini dikenal juga dengna "masjid terapung" karena letaknya yang ada di tengah danau. Peletakan batu pertama masjid di kawasan Cimincrang, Gedebage berdekatan dengan stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) ini digelar pada Jumat 29 Desember 2017.

Berikut ini data dan fakta Masjid Al-Jabbar:

1. Pelaksana pembangunan
Pembangunan dilakukan oleh Dinas Bina Marga dan Penataan Ruang (BMPR) Provinsi Jawa Barat
dengan waktu pengerjaan Tahun Jamak 2017-2018. Masjid seluas 11.238 meter persegi dan luas plaza luar masjid 16.239 meter persegi itu ditargetkan rampung sesuai target pada Desember 2019.

2. Masjid pemerintah terbesar
Masjid Al Jabbar akan menjadi mesjid pemerintah yang terbesar di antara masjid-masjid yang telah ada dimana mampu menampung 60.000 jemaah, baik di dalam maupun di plazanya. Untuk di dalam masjid bisa menampung 33.000 jemaah, sisanya bisa tersebar hingga ke plaza.

3. Fasilitas dan bagian-bagian Masjid Al-Jabbar
Rencana kegiatan untuk pembangunan Masjid Raya Al Jabbar Provinsi Jawa Barat terdiri atas bangunan utama, sarana penunjangnya, dan fasilitas ruang terbukanya. Di lantai dasar masjid ini akan dibangun pula museum sejarah Nabi Muhammad SAW, yang akan memperlengkap paket wisata religi di kawasan ini.

Museum sejarah Nabi Muhammad SAW mengulas berbagai sisi kehidupannya. Museum lainnya, adalah Asmaul Husna seperti yang ada di Madinah, Museum Al Quran, dan museum Tiga Masjid Suci, yakni Masjidil Haram, Masjid Nabawi, dan Masjidil Aqsa. Empat museum ini akan dirancang secara modern, seperti Museum Gedung Sate.

4. Pembebasan tanah
 Pembebasan tanah telah dimulai sejak tahun 2015 dengan luas 4,5798 hektare oleh Biro PBD, tahun 2016 seluas 12,2066 hektare oleh Biro PBD, dan total tanah yang dibebaskan tahun 2017 seluas 3,3556 hektare oleh Dinas BMPR.

5. Stuktur dan makna area Masjid Al-Jabbar
Masjid dibangun dengan struktur utama beton. Juga rangka atap dengan struktur baja bentang panjang 99 m. Plus penutup atap kaca dan alumunium solid panel dengan ketinggian 58m. Ada pula menara sebanyak 4 buah dengan yang paling tinggi 99 meter. Juga seluruh bangunan berdiri di atas struktur pondasi tiang pancang.

Masjid di lahan seluas21 hektare menandakan masjid ini yang dibangun di abad 21. Selain itu, ada 4 menara yang menggambrkan Jabar masagi. Selain itu, menara ke 1, tingginya 33 meter, menara kedua 33 meter, dan menara ke 3 tingginya 33 meter. Kalau dijumlahkan 99 kan Asmaul Husna. Bangunan masjid berupa atap dan jendela bertumpuk mirip dengan penggunaan atap pada masjid-masjid tradisional di Jawa Barat.

6. Luas masjid
Masjid Raya Al-Jabbar akan dibangun dengan lantai dasar seluas 11.291 meter persegi. Sementara lantai I seluas 8.329 meter persegi, dan lantai Mezzanine seluas 2.232 meter persegi. Sedangkan ukuran ruang luar masjid 17.429,6 meter persegi. Masjid ini pun dibangun dengan nilai Engineer Estimate (EE) Rp. 913.874.490.000, termasuk PPN, tidak termasuk landscape dan Ma'Radh.

7. Tahap pembangunan
Dalam pembangunan Masjid Al Jabbar, pelaksanaan konstruksinya dilaksanakan secara bertahap, dengan tahap I sesuai dengan kontrak nomor 602/SPK.30/Pemb.MRJB/JAKON/2017 tanggal 21 Desember 2017, pembiayaan tahun jamak tahun anggaran 2017-2018 sebesar Rp. 511.000.000.000. Masjid tersebut akan dibangun oleh PT Wijaya Karya Bangunan Gedung Tbk (WIKA Gedung). Selama kurang lebih dua tahun dengan anggaran multiyears.

Pembangunan Masjid Raya Al-Jabbar atau masjid terapung di kawasan Gedebage hingga minggu ke-23 sejak dibangun pada awal Januari 2018 mencapai 40 persen. Masjid seluas 11.238 meter persegi dan luas plaza luar masjid 16.239 meter persegi itu ditargetkan rampung sesuai target pada Desember 2019.

8. Danau retensi
Di lokasi yang sama juga dibangun danau retensi yang dibangun oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum. Danau retensi dibangun supaya bila hujan di Gedebage tidak banjir dan kemarau tidak kekeringan, sehingga ada suplai air baku. Danau retensi ini berfungsi sebagai embung untuk mengendalikan banjir di Gedebage dan sekitarnya yang biasanya disebabkan oleh luapan anak-anak sungai Citarum.

Pengerukan untuk membangun danau retensi dilakukan dengan cara memindahkan tanah atau disposal dari lokasi pembangunan masjid ke atas lahan yang telah disetujui pemiliknya sebagai lokasi pembuangan tanah.