Informasi

Pemerintah Kembangkan Inkubasi Startup Indonesia Berbasis Inovasi




Inkubasi Bisnis Startup Indonesia

Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan revolusi industri keempat atau Industry 4.0 yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk manufaktur nasional agar lebih kompetitif di kancah global. Guna mewujudkan sasaran tersebut, diperlukan pusat-pusat inovasi dalam upaya menunjang peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) dan penumbuhan wirausaha baru industri yang siap mengimplementasikan teknologi digital terkini.

“Pemerintah telah menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung, salah satunya membangun ekosistem inovasi,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto ketika menjadi narasumber pada acara Learning Innovation Summit 2018 di Jakarta, Rabu (14/3/2018).

Pembangunan gedung inkubasi bagi para pelaku usaha rintisan
Dalam hal pengembangan industri berbasis digital ini, Kementerian Perindustrian telah memfasilitasi melalui pembangunan gedung inkubasi bagi para pelaku usaha rintisan (startup), antara lain di Bandung Techno Park, Bali Creative Industry Center (BCIC) atau TohpaTI Center, Incubator Business Center di Semarang, Makassar Technopark, dan Pusat Desain Ponsel di Batam.

“Selain itu, kami juga bersama pihak swasta mendorong pengembangan Nongsa Digital Park (NDP) di Batam,” ujar Airlangga. Kawasan-kawasan tersebut menjadi basis inovasi dan kreativitas bagi parapelaku industri di bidang digital yang ingin mengembangkan software, web, aplikasi, film dan animasi, serta program-program digital lainnya.

Menperin meyakini, perkembangan startup di Indonesia akan tumbuh signifikan seiring momentum bonus demografi yang dialami karena bisnis ini banyak diminati oleh generasi milenial. Untuk itu, anak-anak muda Indonesia diharapkan bisa menguasai bahasa Inggris, statistik, dan koding. “Materi ini bisa dipelajari dalam kurun enam bulan, dan Indonesia siap menjadi solusi dalam digital ekonomi,” tegasnya.

Pemerintah memproyeksikan Indonesia akan menjadi negara ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara pada tahun 2020 dengan menargetkan 1.000 technopreneur, valuasi bisnis mencapai USD100 miliar, dan total nilai e-commerce sebesar USD130 miliar. “Backbone-nya research center yang aplikatif, seperti techno park yang kami miliki,” ujar Airlangga.

Apalagi, Indonesia menjadi negara yang potensial untuk tumbuh dan berkembangnya perdagangan elektronik (e-commerce) karena menjadi pasar terbesar di ASEAN. Potensi ini didukung dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta jiwa, di mana penetrasi internet telah menjangkau sebanyak 90,5 juta jiwa dan di antara mereka sekitar 26,3 juta jiwa telah berbelanja secara online.

Menyiapkan platform digital bagi IKM
Saat ini, di ASEAN ada sekitar tujuh unicorn atau perusahaan startup yang memiliki valuasi di atas USD1 miliar. Empat di antaranya dari Indonesia, yakni Bukalapak, Traveloka, Tokopedia, dan Gojek. “Kami juga telah menyiapkan platform digital bagi industri kecil dan menengah (IKM) melalui e-Smart IKM agar dapat memperluas pasar mereka,” kata Airlangga.

Dalam pelaksanaan program e-Smart IKM, Kemenperin bekerja sama dengan beberapa marketplace dalam negeri untuk menjalankan workshop e-Smart IKM. Sampai tahun 2017, pelaksanaan program lokakarya ini telah diikuti sebanyak1730 pelaku IKM, dan ditargetkan pada tahun 2019 dapat mencapai 10 ribu IKM yang dapat diakses konsumen melalui marketplace.

Menperin juga menyampaikan, pihaknya tengah menyusun roadmap mengenai strategi Indonesia menerapkan teknologi Industry 4.0. Teknologi itu di antaranya artificial intelligence, internet of things, big data, robotics dan 3D printing. “Ada lima lighthouse industry yang kami siapkan, yaitu indutri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian jadi, otomotif, elektronik, dan kimia,” sebutnya.

Menperin menambahkan, kekuatan ekonomi Indonesia dinilai sebagai salah satu pemain kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi global. Indonesia mampu memberikan kontribusi sebesar 2,5 persen terhadap pertumbuhan dunia, di mana capaian tersebut mengungguli sumbangsih dari Korea Selatan, Australia, Kanada, Inggris, Jepang, Brasil dan Rusia.

“Dari sektor manufaktur, Indonesia secara persentase untuk kontribusinya terhadap PDB, masuk dalam jajaran lima besar dunia. Mengungguli Jepang, India, dan Amerika Serikat. Bahkan ekonomi Indonesia sudah masuk dalam klub USD1 triliun, atau sepertiga dari ekonominya ASEAN,” pungkasnya.