Newsticker

"Miéling Poé Basa Indung" 2017 Digelar di Gedung YPK


Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan PBB atau UNESCO sejak 1999 telah menetapkan setiap tanggal 21 Februari sebagai  International Mother Languange Day atau Hari Bahasa Ibu Internasional. Di Bandung sendiri peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional digelar pada Minggu, 19 Februari 2017. Kegiatan ini digelar oleh LBSS (Lembaga Basa jeung Sastra Sunda) dan Disbudpar Jawa Barat.

Kegiatan yang digelar di Gedung Pusat Pengembangan Kebudayaan (dulu YPK) Jln. Naripan Bandung bertajuk "Miéling Poé Basa Indung Sareng Kang Aher".  Beberapa kegiatan seputar bahasa Sunda dipentaskan dalam event tersebut.

Acara pun dihadiri oleh beberapa tokoh Sunda, salah satunya Taufik Faturohman yang dikenal pegiat basa Sunda. Sosok yang biasa dipanggil Kang Haji Topik ini bergiat dalam kegiatan Sulap jeung Dongeng (Sudong). Ia juga aktif menerbitkan buku-buku bahasa Sunda lewat penerbit Geger Sunten yang dikelolanya. Ia pun merupakan salah satu komedian stand up comedy Sunda.

Dihadiri tokoh, seniman, dan budayawan Sunda
Tokoh-tokoh Sunda lainnya yang hadir dalam kegiatan tersebut Deputi Kelembagaan Kemenpar Ahmansya,  Uu Rukmana, Kadisbudpar Jabar Ida Hernida, juga para seniman dan budayawan di antaranya penyair Sunda Godi Suwarna dan sastrawan Tatang Sumarsono. Dalam acara tersebut berlangsung pula talkshow dengan pembicara mantan Rektor Unpad Prof. Ganjar Kurnia, Dadang Rusdiana dan Drs. Sobandi. Dalam acara tersebut diberikan pula hadiah untuk para pemenang penulisan carpon, memperebutkan hadiah dari Kang Darus (Dadang Rusdiana)

"Pendidikan bahasa Sunda di sekolah-sekolah dengan muatan lokal selama ini cenderung ke tata bahasa. Pelajaran bahasa Sunda berkaitan dengan tata bahasa sangat sulit diterima para siswa hingga tujuan pelestarian maupun pendidikan tidak tepat sasaran," ungkap Ahmad Heryawan dalam sambutannya.

Untuk itu, Aher mengajak masyarakat penutur bahasa Sunda untuk lebih menggiatkan penggunaan bahasa Sunda dalam keseharian tanpa kaku. Pola belajar bahasa Sunda yang dianggap susah, terutama oleh generasi muda, karena selama ini di sekolah pelajaran bahasa Sunda hanya sebatas nilai dan pemberian materi sesaat oleh guru. Padahal, untuk melestarikan bahasa Sunda adalah aplikasi langsung dalam keseharian. Untuk itulah, tambah Aher, perlu ada orientasi baru terhadap penerapan penggunaan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari.

Sementara Dadang Rusdiana, anggota Komisi X DPR RI, mengungkapkan upaya menjadikan basa Sunda sebagai bahasa indung perlu dilakukan secara struktural dan kultural. Secara struktural dilakukan dengan dukungan dan keseriusan pemerintah, yang tidak hanya berbentuk peraturan namun juga diikuti dengan implementasinya.

Gubernur dan istri baca cerpen kilat Sunda
Dalam acara "Miéling Poé Basa Indung 2017” tersebut juga ditampilkan acara diskusi, musikalisasi puisi, pembacaan puisi, lomba menulis carpon (carita pondok), pameran carpon dalam bentuk grafis, sudong (sulap dan dongeng), dan stand up comedy ngabodor sorangan (borangan).

Aher beserta istri pun ikut unjuk kabisa dengan membacakan Carponn atau Carita Pondok Naker. Carponn adalah cerita bahasa Sunda yang sangat pendek, berasal dari komunitas yang digagas Taufik Faturohman di grup Facebook.Carita pondok ini disajikan dalam satu atau dua kalimat tamat yang memiliki nilai moral atau humor. Aher membacakan Carponn berjudul “Kagegel Oray” (Digigit Ular), sementara istrinya, Netty Prasetyani Heryawan membacakan naskah Carponn “Doger Monyet”.