Newsticker

Para Orangtua, Waspadailah Bullying pada Anak




Masalah kekerasan di negara kita kadang terdapat dalam rupa tersembunyi. Ini bisa terjadi pada anak-anak kita sendiri. Mungkin jika Anda sebagai orang tua, zaman dahulu mengenalnya lebih pada kebiasaan anak-anak saja. Namun kekerasan pada anak akhir-akhir ini cukup mengkhawatirkan. Kekerasan bisa terjadi saat mereka di sekolah ataupun di saat mereka bergaul dalam lingkungan sepermainannya.

Bentuk kekerasan pun bisa kekerasan fisik maupun psikis. Sekarang yang menjadi sorotan adalah kekerasan di ranah sekolah. Kebiasaan mengejek, memalak, menekan secara fisik, hingga tawuran adalah contoh kelakuan anak-anak sekarang yang bisa saja menjurus pada unsur mencelakakan dan bahkan kriminal.

Dilakukan Secara Individual maupun Kelompok
Perilaku kekerasan ini bisa dilakukan secara individual maupun kelompok, baik dengan sengaja menyakiti atau mengancam korban dengan cara: menyisihkan seseorang dari pergaulan, membuat julukan yang merendahkan; mengejek kondisi si korban;  mengerjai seseorang untuk mempermalukannya di depan umum;  mengintimidasi korban; melukai secara fisik; hingga melakukan perampasan barang.

Sungguh ironis memang, namun kenyataan sering terjadi di lapangan dan ini termasuk tindakan laten (tersembunyi). Dimana kadang orang tua tidak  menyadari bahwa sang anak tengah mengalami kekerasan secara fisik dan psikis. Kekerasan yang dialami oleh anak biasanya tidak diceritakan oleh sang anak. Baru ketika tanda-tanda muncul, orang tua baru "ngeuh" bahwa sang anak tengah berada dalam masalah.

Kita sekarang lebih mengenal jenis kekerasan itu dengan istilah bullying. Ini berasal dari istilah bully, dimana mengacu pada pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan seseorang terhadap orang lain (yang umumnya lebih lemah atau “rendah” dari pelaku). Bullying ini bisa menimbulkan gangguan psikis bagi korbannya. Ciri-cirinya bisa berupa stress, sakit fisik, ketakutan, rendah diri, depresi, cemas, hingga kemarahan yang tidak tersalurkan. Anak akan mengalami kebingungan.

Intimidasi Fisik, Verbal, dan Sosial
Apalagi misalnya jika bullying terjadi di tempat dia sehari-hari berada, misalnya di sekolah. Jangan dikira tidak bahaya, ini akan berdampak pada perkembangan jiwa anak di kemudian hari. Apalagi jika bullying dilakukan dalam rentang waktu yang lama.

Menurut Dan Olweus, penulis Bullying at School, bullying dibagi menjadi dua bagian besar yaitu :
1. Direct bullying yaitu  intimidasi yang dilakukan secara secara fisik dan verbal. Misalnya kelompok anak tertentu menekan kelompok/individu lain yang dianggap saingan. Di sekolah biasanya terjadi dalam tataran senioritas. Jika ada junior/adik angkatan yang "macam-macam" maka penekanan secara fisik dan verbal pun bisa dilakukan.
2. Indirect Bullying, dimana dalam hal ini ada  perlakuan isolasi secara sosial. Misalnya sang korban akan terus dipantau dan sengaja disisihkan dari pergaulan agar dia tidak "mendapat tempat" dalam hubungan sosial dengan orang lain.

Praktek bullying ini bisa terjadi dengan terselubung. Maka, kadang pihak sekolah atau orang tua seakan melakukan "pembiaran" padahal sang anak sedang berada dalam titik kejatuhan mental atau sakit fisik. Apalagi jika sang anak yang jadi korban kurang daya komunikasinya dengan pihak sekolah atau orang tuanya. Dalam hal ini bisa saja karena sang korban mendapat ancaman: "Awas kalau kamu melaporkan, kamu akan lebih parah!".

Ini merupakan salah satu penyakit sosial dalam lingkungan sekitar kita. Anak yang menjadi korban kekerasan akan mengalami ragam permasalahan, dari mulai depresi; hilangnya rasa percaya diri; ketakutan untuk belajar di sekolah atau bergaul; menurunnya prestasi akademik; bahkan gangguan mental pada sang anak, misalnya ingin bunuh diri.

Kekerasan tersembunyi ini sebetulnya mudah dilihat dari bagaimana temperamen anak bisa berubah drastis hingga gaya bergaul dia dengan temannya. Bullying ini bisa terjadi dalam  pergaulan keseharian atau di lingkungan akademik, misalnya saat Masa Orientasi Siswa (MOS) bahkan Ospek di kampus. Ini mungkin masih terlihat dengan jelas dan pemerintah pun sudah melarang segala bentuk tindakan tak mendidik tersebut. Namun yang paling membahayakan adalah ketika dalam lingkungan sehari-hari anak.

Tekanan Psikis dan Fisik pada Anak
Hari-harinya akan dijalani bak neraka, dimana ia mendapat tekanan psikis maupun fisik yang membuatnya drop. Bentuk Bully dengan tindakan langsung bisa berupa menyakiti, mengancam, atau menjelekkan anak lain. Sementara bentuk bully tidak langsung dapat berupa menghasut, mendiamkan, atau mengucilkan anak lain.

Jika Anda para orang tua, sebaiknya mampu dengan segera menangkap gejala pada sang anak. Bisa saja anak sedang diintimidasi oleh temannya atau juga malah anak Anda sendiri sebagai pelaku bullying. Jika anak Anda sedang menjadi korban, perhatikan tingkah laku dan keadaan fisik dia. Anda bisa meminta informasi dari teman anak Anda atau dari guru di sekolah. Adapun jika Anda dicurigai sebagai pelaku bullying perhatikan sikap agresifitas sang anak; perubahan perilaku dari gaya hidup hingga gaya bicara; atau juga temperamen mereka yang tiba-tiba berubah.

Ingat, perilaku bullying ini bisa "menular". Jika seorang anak jadi korban, bukan hal tidak mungkin nantinya ia akan bangkit untuk menjadi pelaku. Apalagi jika unsur senioritas tadi lebih kuat. Tinggal menunggu waktu saja ia naik ke kelas selanjutnya, maka singgasana menjadi pelaku pun akan terbuka.

Peran Orangtua
Di sinilah peran orangtua dibutuhkan saat kasus bullying terjadi. Anda bisa membuka keran komunikasi dengan anak. Kedua orang tua pun harus bisa bekerja sama dalam menangani masalah ini, satukan pendapat untuk menolong sang anak. Ajak anak bicara bahwa situasi tersebut harus dihadapi, jangan lari dari masalah. Jika perlu, lakukan koordinasi dengan pihak sekolah atau orang tua lainnya. Selain itu, beri pengertian pada anak bagaimana sosialisasi yang baik itu.

Hal lainnya adalah cari penyebab mengapa kasus bullying bisa terjadi; arahkan anak pada kegiatan lain yang menghindarkan dia pada bullying (misalnya kegiata ekstrakurikuler); bekali anak dengan bagaimana cara komunikasi yang baik dengan lingkungannya; ajari dia untuk mempertahankan diri ketika dia berada sendirian; posisikan Anda sebagai penolong, bukan penghakim anak; amati emosi serta perilaku anak dalam rentang waktu teratur.

Solusi untuk mengenyahkan bullying ini memang bukan saja tanggung jawab orang tua, namun semua pihak harus terlibat di dalamnya dari hingga pihak berwajib. Karena bullying ini sangat mendekati pada aspek kriminalitas. Jika dibiarkan, tradisi menyakiti orang lain dalam lingkungan generasi muda akan terus dipupuk dan dipelihara sehingga generasi muda rentak akan budaya kekerasan.