Newsticker

Maruli Silitonga, Saksi Sejarah Konferensi Asia Afrika 1955




Maruli Silitonga, salah satu aggota Paguyuban Sapedah Baheula (PSB). Dengan menggunakan sepeda ontel keluaran tahun 35 beremerek “Reliegh” pria berusia 87 Tahun ini berangkat dari Bojong Peuteuy, Desa Bojong Malaka, Kec, Baleendah pada pukul 06.00 hingga tiba di Jln. Asia Afrika pukul 07.30. Ia akan menghadiri acara peringatan 61 tahun Konferensi Asia Afrika. Meski sudah berusia lanjut, pria beranak lima ini tidak merasa lelah mengendarai sepeda ontel dari Baleendah menuju Jln. Asia Afrika.

Maruli menjadi anggota Paguyuban Sapedah Baheula sejak 2005 yang dipimpin oleh Kang Oboy. Paguyuban ini terdiri dari 1021 anggota. Untuk kegiatan mingguan, Paguyuban Sapedah Baheula biasa berkumpul di depan Museum Geologi Jln. Diponegoro Bandung.

Sepeda ontel tua milik Maruli dibeli pada tahun 1943 dari Noni Belanda dengan harga 1 ringgit. Hingga sekarang, sepeda kesayangannya masih terawat dengan baik. Bila terjadi kerusakan, ia tidak pernah memperbaiki di bengkel karena pria paruh baya ini bisa memperbaikinya sendiri.

“Lamun aya anu kudu diganti, Bapa mah sok meser alatna di Binong, engke dipasangkeun sorangan,” tutur pria yang mengenakan pakaian veteran ini dalam bahasa Sunda yang artinya  apabila ada yang harus diganti, ia biasa  membeli alatnya di Binong. Sepeda kesayangannya ini sudah ada yang ingin membeli, Namun ia  tidak mau menjualnya walaupun dibeli dengan harga tinggi  karena ontel tuanya ini mengandung sejarah.

Saksi Sejarah KAA
Selain sepeda ontelnya yang mengandung sejarah, ternyata Maruli Silitonga juga adalah saksi sejarah yang ikut andil dalam perjuangan merebut kemerdekan Negara Republik Indonesia. Ia pun termasuk salah satu saksi sejarah Konferensi Asia Afrika. Pria Veteran Barisan Keamanan Rakyat (BKR) ini mengetahui seluruh petilasan Bung Karno dan sejarah perjuangan melawan penjajahan Belanda.

“Saya dulu ditugaskan untuk mengawal Bung Karno pada saat Konferensi Asia Afrika 1955. Pada waktu itu, saya adalah anggota Kostrad Kujang Satu yang sekarang menjadi Zipur,” tutur Maruli saat diwawancara di depan Gedung Merdeka Bandung

Sewaktu masa perjuangan, pria asal Medan yang sudah lama tinggal di Bandung sejak masih remaja ini pernah mengalami rangkaian perjuangan.  Pada 1957, ia bersama pasukannya pernah berjalan kaki selama tuga bulan di Sumatera untuk membasmi Pemberontak Rakyat Republik Indonesia (PRRI). Tahun berikutnya, ia ikut membasmi pemberontak Kahar Muzakar. Ia pun pernah ikut dalam pembebasan Irian Jaya (sekarang Papua) dari penjajah Belanda selama satu tahun hingga Irian merdeka pada 1959. Pada tahun 1975, ia pun pernah ikut  operasi Seroja di Timor Timur (sekarang Timor Leste).

“Jaman baheula mah meunang pangkat teh lain hasil sakola, tapi hasil perjuangan,” kata Maruli. Pria yang sekarang memiliki perusahan antar-jemput siswa SD di Baleendah  ini menambahkan, pada zaman perjuangan dulu ia berada di bawah pimpinan Solihin GP dan akhirnya pada 1982 ia pensiun.