Newsticker

Pengembangan Kampung Wisata Burung Belekok di Ranca Bayawak, Gedebage




Kampung Ranca Bayawak RW 2 Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung berada di antara cekungan Gunung Manglayang dan Gunung Palasari yang disebut lawang angin (pintu angin). Inilah yang menyebabkan kencangnya terpaan angin di daerah ini. Karena itu, untuk menyiasati terpaan angina kencang tersebut, salah satu warga kampung Ranca Bayawak H. Adnan, menanam pohon bambu pada sekitar tahun '70-an. Inilah awal mulai terjadinya migrasi burung belekok dan burung kuntul. Sampai sekarang menjadi tempat yang nyaman bagi populasi burung belekok dan burung kuntul.

Ada mitos tersendiri bagi warga setempat, dimana apabila merawat dan memelihara serta menjaga kelestarian burung belekok maka kehidupannya akan sejahtera. Selain itu, banyak cara yang dilakukan masyarakat sekitar untuk menjaga dan melestarikan burung belekok dan burung kuntul ini, di antaranya  dengan cara memberi pakan burung-burung tersebut berupa ikan segar. Mereka melakukannya secara sukarela dan mendapat bantuan dari pihak luar yang peduli dengan populasi burung belekok.

Kuliner Ranca Bayawak
Selain dikenal karena banyaknya populasi burung belekok dan burung kuntul, di Kampung Ranca Bayawak ini juga dikenal dengan kuliner yang khas dan unik, asli hasil olahan tangan warga masyarakat setempat. Diantaranya: pais kurucuk, cobek cau manggala, serta opor jantung cau manggala.

Pais kurucuk sendiri adalah pepes ikan mas yang dikukus di atas tungku yang berbahan bakar kayu sehingga menciptakan rasa yang unik dan lain dari pada pais/pepes yang biasa. Sedangkan cobek cau manggala adalah pisang manggala yang masih muda yang diberi bumbu cobek. Karena rasanya pedas jadi sangat cocok bila dimakan dengan ketan ongger/nasi ketan. Opor cau manggala merupakan masakan dari jantung pisang manggala yang di masak dengan bumbu opor, rasanya unik dan nikmat yang mana. Untuk produksinya, sendiri dilakukan oleh ibu-ibu penggerak PKK warga Kampung Ranca Bayawak

Sebagai tempat wista alam yang langka dan ingin dikembangkan, mulailah dibangun fasilitas untuk para pengunjung, yaitu dengan membuat tempat untuk melihat populasi burung belekok lebih dekat lagi. Di lokasi sudah disediakan tempatnya di lantai 2 di atas bangunan masjid. Dari situlah pengunjung bisa melihat lebih jelas lagi karena letaknya sejajar dengan pohon bambu yang menjadi tempat favorit untuk populasi burung belekok berkembang biak.

Dengan jarak belasan meter pengunjung dapat melihat dengan jelas indahnya burung yang berkumpul di atas pohon bambu. Burung belekok biasanya melakukan aksi terbang dan mendarat di atas pohon bambu tanpa ada rasa takut dengan kehadiran manusia karena burung belekok sudah beradaptasi dan terbiasa dengan manusia.

Kepedulian Alumni ITB
Pada Sabtu, (27/02/2016), Kampung Ranca Bayawak mendapat kunjungan dari alumni ITB angkatan tahun 1975. Mereka mulai merasa tergugah untuk ikut melestarikan keberadaan burung belekok setelah mendapat informasi dari pihak pecinta burung belekok. Hasil diskusi dengan pihak alumni ITB angkatan '75 tersebut, mereka bersedia membantu untuk melestarikan kampung wisata belekok. Mereka pun langsung membentuk jalanan komunikasi agar warga dan pengurus Kampung Ranca Bayawak dapat dengan mudah menyampaikan keluhan dan kebutuhan untuk mengembangkan kampung wisata belekok.

Diskusi hari ini di hadiri juga oleh Camat Gedebage Bambang Sukardi, beliau menyampaikan amanat dari Walikota Bandung bahwa Pemkot sudah merencanakan akan membangun kampung belekok menjadi sebagian dari program Bandung teknopolis. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil atau biasa dipanggil Kang Emil ini menugasi Camat Gedebage untuk membuat desain kampung wisata kreatif belekok.

Emil pun meminta untuk dibangun fasilitas tempat menginap untuk pengunjung. Selain itu, pihak kecamatan diminta menyediakan produk unggulan ciri khas kampung belekok untuk meningkatkan KUKM warga setempat. Hal lainnya, pihak setempat diminita menyediakan  lahan untuk pemekaran wisata kampung belekok tersebut.