Ini Beda Nonton TV Zaman Dulu dan Zaman Now

share to whatsapp




Nonton TV zaman dulu

Lahirnya produk teknologi hiburan bernama televisi tak dilepaskan dari peradaban manusia. Bagi kaum milenial sekarang mungkin hal lumrah nonton TV di rumah bahkan di kamar masing-masing. Dan lewat tulisan ini, bagi teman-teman kaum milenial yang lahir di era 1990an - 2000an bisa mendapatkan gambaran bagaimana "susahnya" dan serunya kehidupan era 80-90an dimana yang namanya TV, seperti halnya produk teknologi lainnya, menjadi barang yang eksklusif.

Tentunya pula ada keseruan-keseruan yang dialami para generasi di era 80-90an seputar nonton TV ini. Apa saja perbedaan nonton TV zaman dulu dengan zaman sekarang.

1. Tak semua bisa punya TV
Yap, era lahirnya TV tabung dari yang hitam putih sampai berwarna menjadi barang langka yang dipunyai setiap rumah. Zaman Orde Baru, yang namanya nobar alias nonton bareng khususnya bagi anak-anak adalah kebiasaan tersendiri. Gak kayak sekarang yang tinggal pencet remote, TV langsung nyala. Nontonnya pun bisa kapan saja.

Dulu, buat nonton TV memerlukan perjuangan tersendiri. Apalagi bila daerahnya belum dimasuki aliran listrik PLN. Maka sumber listrik buat nyalain TV pun menggunakan aki (accu) yang harus di-charge rutin. Tandanya, bila sumber pasokan listrik dari aki akan habis, gambar TV akan goyang dan bleeep menghilang.

Terbayang kan? Yang punya tabung televisi selain harus modal beli TV juga harus punya aki plus pemeliharaannya. Maka tak heran bila dulu yang punya TV tuh adalah orang-orang berpunya. Bagi yang gak punya TV? Ya harus nebeng ikut nobar di rumah yang punya TV. Kadang ada juga warga yang iuran buat nge-charge aki.

2. Nonton TV gak gratis
Lho kok bisa? Mmh.. dulu yang namanya stasiun TV itu hanya TVRI yang dominan jadi corong pemerintah. Maka buat ngedukung pembiayaan siaran, pemerintah pun mengeluarkan kebijakan siapapun yang punya TV di rumahnya harus bayar iuran televisi tiap bulan. Tiap yang punya TV harus punya kartu semacam kartu bayaran SPP di sekolah.

Ya, walau biaya iurannya terhitung terjangkau. Namun, kadang ada pula pemilik TV yang mengakali biar gak bayar iuran dengan menyembunyikan antena TV di dalam rumah, misalnya. Beda dengan zaman sekarang, dimana siaran televisi konvensional (swasta) tak menuntut kita bayar karena sudah disokong iklan. Walau sekarang ada juga TV langganan alias berbayar, tapi pilihan channel dan kualitasnya beda jauh dengan zaman dulu.

3. Gak setiap jam bisa nonton
Sekarang mah, nonton TV bisa 24 jam. Di era TVRI ada batasan jam. Dari pagi sampai siang gak ada siaran. Nah, anak-anak biasanya nonton siaran televisi seperti film kartun tuh bisanya sore hari menjelang magrib.

Bila pengen lebih banyak hiburannya biasanya di akhir pekan dengan adanya siaran musik di TVRI seperti Aneka Ria Safari atau Selecta Pop. Malam Minggu pun jadi malam yang asyik buat nobar TV dengan nonton film menjelang tengah malam. Dan siaran TVRI akan berakhir pas tengah malam.

4. TV bisa main games? Wow keren banget
Bila zaman sekarang ragam hiburan main games bisa pake komputer, laptop, smarthpone, atau main PS yang dicolokin ke TV. Dulu, yanga ada konsol Sega atau Nintendo. Kembali lagi, yang punya alat permainan ini biasanya orang-orang berpunya. Mainnya pun harus rapi dan jangan bikin yang punya konsol ngambek. Maklum, harga kaset games-nya sendiri muahal banget.

Alternatif lain, bila gak diajak main Sega atau Nintendo ya main games ding dong yang biasanya ada di tempat-tempat khusus, seperti kawasan keramaian. Buat di Bandung, buat main games ding dong ini banyak di mall-mall yang ada kawasan Alun-Alun Bandung. Alternatif lain yang lebih murah? Bisa sewa game watch di tukang sewa keliling, cukup bayar Rp50 saja. Biasanya ini ada di sekolah-sekolah saat sebelum masuk, jam istirahat, atau pulang sekolah.

5. Nonton film pakai video
Integrasi produk hiburan dengan TV zaman dulu pun sudah ada. Kalau sekarang sih, selain sudah ada DVD player bisa nonton film pake Smart TV yang terhubung ke internet. Dulu, buat nonton film harus pakai video player dengan sumber film dari kaset pita berukuran besar. Kaset video ini bisa beli sendiri atau sewa di tempat-tempat penyewaan. Perkembangan selanjutnya setelah video player hadir Laser Disc (LD) dengan piringan berukuran besar. Lalu semakin mengecil dengan hadirnya VCD dan makin canggih dengan hadirnya DVD.

6. Hadirnya televisi swasta
Ini nih yang jadi revolusi perkembangan siaran televisi di Indonesia. Awalnya penikmat siaran TV dulu "dijajah" dengan hanya bisa nonton TVRI dengan sajian siaran yang kebanyakan termasuk ngebosenin. Lalu, lahirlah televisi swasta yang dibidani oleh salah satu anak Presiden Soeharto. Nama stasiun televisinya TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) yang menyuguhkan aneka siaran berkonsep tema pendidikan buat anak-anak sekolah. Sekarang, TPI berubah jadi MNC TV.

Perkembangan selanjutnya lahirlah RCTI dengan konsep yang menghibur banget dengan sajian acara musik, film-film barat, serial televisi, sinetron, kuis, sampai musik. Awalnya buat nonton RCTI harus pake decoder. Dunia industri televisi pun makin berkembang dengan hadirnya stasiun televisi lainnya, diantaranya SCTV, ANTV, Indosiar, Lativi (kini TV One), Trans TV, TV 7 (kini Trans 7), Global TV (kini GTV), Kompas TV, dll.

7. Akses buat eksis di TV itu berat
Buat pelaku industri hiburan atau selebritas, dulu buat tampil di TV perlu perjuangan yang sangat berat. Maklum, channel buat nampang di layar kaca hanya di TVRI doang. Jangan heran bila artis-artis yang ada itu-itu saja tidak sebanyak sekarang. Mereka bisa tampil di acara musik, drama, atau kuis. Kalau sekarang banyak ajang pencari bakat, dulu yang terkenal ada Asia Bagus yang melahirkan penyanyi sekaliber Krisdayanti.

Zaman dulu, jangan mengharapkan acara-acara off air televisi seperti sekarang. Jadi kalau pengen interaksi dengan selebritas zaman dulu, kalau gak kirim surat, datang ke acara pentasnya atau jika lagi hoki bisa ketemu di jalan dan langsung minta foto. Pokoknya kalo ketemu atau berfoto dengan artis itu, sesuatu banget. Bahkan bila pengen koleksi fotonya, ada juga lho yang jualan. Salah satunya di kawasan Alun-alun dekat Jln. Dewi Sartika.

Kalau sekarang? Mau tahu seputar kehidupan keseharian artis bisa dipantengin di acara gosip atau cek langsung di akun medsosnya seperti Instagram.

;