Disdik Jabar Gelar Workshop Penyusunan Bahan Kebijakan Sekolah Ramah Anak

share to whatsapp




Workshop Disdik Jabar

Dinas Pendidikan (Disdik) Jawa Barat menggelar Workshop Penyusunan Bahan Kebijakan Sekolah Ramah Anak, di Ruang Papandayan Gedung Sate, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Selasa (15/10/2019).

Tiga penunjang iklim konsep Sekolah Ramah Anak (SRA)
Praktisi Pendidikan Kemasyarakatan Jawa Barat, Nike Kamarubiani menjelaskan, ada tiga penunjang iklim konsep Sekolah Ramah Anak (SRA), yaitu Literasi Sekolah yang mengharuskan anak banyak membaca, Jaksa Masuk Sekolah guna memberikan ketenangan bagi guru dan siswa, dan Sekolah Sehat. Hal tersebut dipaparkan Nike saat memberi materi "Mengenal dan Mengembangkan Sekolah Ramah Anak".

Nike membeberkan strategi pengembangan SRA bahwa sekolah adalah penyelenggara proses pendidikan dan pembelajaran secara sistematis dan berkesinambungan. Perilaku terpelajar ditampilkan dalam bentuk pencapaian prestasi akademis, menunjukkan perilaku yang beretika dan berakhlak mulia, bertanggung jawab , disiplin serta menunjukkan karakter diri sebagai masyarakat, warga negara, dan berbangsa.

Nike pun mengimbau seluruh aspek di sekolah agar disiplin dan tegas menegakkan peraturan SRA. Contohnya, pembinaan anak tanpa merendahkan martabat serta kekerasan pada anak. Karena, menurut penelitian, pendekatan dengan disiplin positif (tanpa hukuman) mendorong berkembangnya kedisiplinan diri anak.

Selain Nike, turut hadir pemateri Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, Nanang Fatah dan Praktisi Kebijakan Universitas Pasundan, Asep Hilman. Acara ini dihadiri pula oleh kepala SLB, SD, SMP, SMA, dan SMK di Jawa Barat.

Meningkatan mutu sekolah
Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Nanang Fatah mengungkapkan untuk melahirkan siswa berkualitas tentu harus meningkatan mutu sekolah terlebih dahulu. Sekolah harus fokus meningkatkan kompetensi guru agar kreatif dan inovatif. Selain itu, memperbaiki infrastruktur serta sarana prasarana, bukan mencampuradukkan bisnis sekolah.

Nanang memaparkan, sekolah harus memiliki strategi untuk mencapai kualitas, baik di tingkat pimpinan, tenaga akademis maupun administratif. Tidak hanya itu, sekolah juga perlu mengelola keluhan sebagai umpan balik guna mencapai kualitas dan memosisikan kesalahan sebagai instrumen untuk berbuat benar pada masa berikutnya.

Ia mengatakan, sekolah harus memiliki kebijakan dalam perencanaan guna mencapai kualitas, baik untuk jangka pendek, menengah maupun panjang. "Upayakan proses perbaikan sekolah dengan melibatkan semua orang sesuai tugas pokok, fungsi, dan tanggung jawabnya," ucap Nanang.

Meningkatkan skill dan keahlian guru
Termasuk, lanjutnya, dalam meningkatkan skill dan keahlian guru agar memiliki intelektual yang memadai dan bisa mentransfer ilmu pengetahuan atau metodologi pembelajaran.

"Memahami konsep/psikologi perkembangan anak akan membantu guru mengorganisasi problem solving, kreatif, dan mempunyai seni dalam mendidik di sekolah," ujarnya.

Menurut Nanang, kualitas guru akan menentukan perkembangan anak dalam pendidikan. Termasuk membangun karakter positif siswa, dibarengi prestasi akademis yang tinggi.

"Maka dari itu, sekolah perlu mengadakan pelatihan untuk guru secara terpadu dan simultan agar melahirkan mutu pembelajaran yang efektif dan menyenangkan bagi anak," tuturnya.

Selain itu, tambah Nanang, evaluasi menyeluruh terhadap perkembangan anak serta membangun relasi dan komunikasi timbal balik yang positif antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua

;