Manusia Adalah Makhluk (Media) Sosial

share to whatsapp




Cerita lucu si Kabayan

"Kawas kuda leupas ti gedogan ya Mang?" kata si Kabayan ke Mang Lamsijan, saat keduanya lagi duduk-duduk santai di pos ronda.
"Apa maksud kamu, Kabayan?" tanya Mang Lamsijan sambil kemudian nyuruput cikopi.
"Iya, ini di musim politik. Hoax, silih gorengkeun, sampai pertengkaran online pun merajalela. Kebebasan kayaknya kayak gak ada batasnya sajah."
"Di medso kitu maksudnya? Kayaknya jauh pisan dari ciri masyarakat kita yang silih hargaan, saling asah, saling asih, salinga asuh teh. Sekarang mah kalau baca medsos teh garihal dan bikin enek. Yang ada mah saling serang, saling sindir, pokona mah... mudah kesulut kalau api mah!"
"Iya Mang. Semua teh mendadak jaradi ahli. Dari ahli analisis politik sampai mendadak ahli agama dan ahli ekonomi! Dan menyedihkan mah, sekarang mah batas orang berilmu atawa pintar teh tipis. Malah kadang orang yang ahlinya pun habislah dikekeak."
"Heueuh, padahal mah modal ceuk alias katanya. Sumber-sumber informasi kadang tidak valid alias gak jelas. Cuman modal link dan kabar yang viral, semua seakan sahih. Padahal semuanya perlu ditelusuri lagi kebenarannya..."
"Ari keur awal muncul mah, medsos teh adem dan mengasyikan nya Mang. Sekarang mah medsos teh jadinya bukan media sosial, kebanyakan jadi media sosorongot. Orang-orang mudah marah, mudah mengutruk, sampai berani silih blokir dengan sahabat atau keluarga sendiri."
"Ku naon nya, Kabayan?"
"Teuing atuh Mang. Mungkin di kita mah menulis atau berkata kasar di medsos teh bisa sangeunahna. Padahal semua akan punya akibat. Panan ciri teh katanya mencerminkan bangsa. Bangsa kita mah meureun sekarang lagi masuk tahap ini. Tahap belajar bijak medsos teh jauh keneh. Nu penting mah dipake, gak peduli nanti resikonya mah."
"Iya, bener ungkapan netizen maha benar teh. Yang ada sekarang mah: kamu salah banget, saya bener pisan! Gak ada siger tengah alias mencoba berposisi di tengah untuk bisa berpikir dan berdiskusi jernih. Luapan komentar atawa status teh kayak tumpukan sampah, bebas pisan."
"Meureun karena ruang berekspresi tea yang sangat terbuka. Ditambah hukum pengen eksis tea di medsos mah. Kalau dulu mah mulutmu harimaumu, kiwari mah bisa jarimu harimaumu! Dengan menulis di keypad hanphone pintar, seakan kumaha aing tea."
"Jaman kiwari mah, ari telepon we pintar. Ari penggunannya asa balik lagi ke jaman kegelapan. Ari kitu mah, yang disebut gaptek teh bukan gagap menggunakan teknologi, tapi gagap memahami fungsi teknologi."
"Iya, katambah sekarang keur musim mau Pemilu 2019. Kontra nomor 01 dan nomor 02 di medsos teh sampai melahirkan kubu cebong dan kampret. Padahal kita teh sama semua: bangsa Indonesia. Da kalau melihat perbendaraan mah, dari zaman baheula ge atuh sudah bubuk negara kita teh. Tapi dengan sikap saling menghargai dan toleransi, sampai sekarang Indonesia masih berdiri. Tapi sekarang? Eh, malah diojok-ojok terus saling berseteru."
"Padahal milih mah urusan diri masing-masing. Da yang menentukan siapa yang nanti mimpin nagara mah bergantung hasil 17 April 2019. Yang menang suara gak boleh jumawa, yang eleh suara jangan ngalehleh! Da nantinya tugas pemimpin mah tak ada pilih kasih, mau yang memilih atau tidak memilih dia.... tetap we bagian bangsa Indonesia, tetap harus diurus."
"Puguhan. Urusan 01 dan 02 saya juga sampai bingung..."
"Bingung kenapa?"
"Iya, karena terlalu keasyikan dibombardir isu 01 dan 02, saya sampai sekarang bingung milih buat para caleg di lembur sendiri. Saya mah jujur, minim pisan informasi profil dan program kerja para caleg teh. Padahal nanti milih teh bukan presiden saja, panan anggota dewan dari kota sampai nasional pun meureun kudu dipilih juga."
"Heueuh oge. Saya sendiri ge rada blank, siapa saja wakil rakyat yang harus saya pilih nanti. Palingan tahu wajah dan jargonnya teh di baliho-baliho dan spanduk. Ari program kerjanya mah masih bingung." (Abah Amin)

;