Informasi

Film "Iqro, Petualangan Meraih Bintang" Akan Tayang 26 Januari 2017





Untuk mengurangi dahaga masyarakat terhadap film-film edukatif dan inspiratif di Indonesia, Masjid Salman ITB bersama Salman Film Academy memproduksi film layar lebar  berjudul "Iqro, Petualangan Meraih Bintang". Film ini menjadi film pertama yang diproduksi oleh Masjid Salman ITB dan Salman Film Academy dan berhasil menembus industri perfilman layar lebar di Indonesia.

Film yang diproduseri oleh Budiyati Abiyoga dan karya sutradara Iqbal Alfajri merupakan film yang bertemakan anak-anak, religi, dan ilmu pengetahuan. Film berkisah tentang seorang anak kecil yang sangat gandrung pada sains namun diharuskan juga untuk belajar  membaca Alquran terlebih dahulu.

Masjid Salman ITB dan Salman Film Academy sebagai rumah produksi dari film ini telah ikut meramaikan industri perfilman di Indonesia tentang cerita anak-anak dan memiliki nuansa religi diantara film Indonesia yang saat ini hadir. Tentunya ini menjadi salah satu film yang sangat mendidik, baik dan inspiratif terutama untuk generasi muda.

"Penamaan iqro pada judul besar film ini terinspirasi dari wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW, film ini bercerita tentang pentingnya mencintai Alquran sejak dini sebagai dasar bagi perkembangan pribadi generasi muda muslim, "kata Iqbal Alfajri Sutradara film saat dihubungi wartawan melalui pesan singkat pada Senin (05/12/2016).

Lanjutnya diharapkan dengan hadirnya film ini dapat memberi manfaat yang luas bagi masyarakat di Indoneisia. Film ini akan tayang pada 26 Januari 2017 serentak di seluruh bioskop Indonesia. Film ini diperankan oleh aktor dan aktris anak-anak yaitu Aisha Nurra Datau dan Raihan Khan serta didukung oleh aktor dan aktris senior seperti Cok Simbara, Neno Warisman, Meriam Bellina, Mike Lucock, dan Adhitya Putri.

Sinopsis Film "Iqro, Petualangan Meraih Bintang"
Aqila (9 tahun) adalah anak yang sangat gandrung pada sains namun kurang punya minat belajar Al Qur’an. Aqila memiliki seorang kakek yang berprofesi sebagai astronom dan tinggal di Pusat Peneropongan Bintang Bosscha.

Aqila bermaksud membuat tugas sekolahnya yang berhubungan dengan astronomi, kakeknya memberi izin pada Aqila untuk menggunakan teropong bintang di Bosscha untuk menyelesaikan tugasnya, namun dengan satu syarat Aqila harus bisa membaca Al Qur’an. Aqila menyanggupinya.

Saat di rumah kakeknya, Aqila bertemu Ros, anak dari seorang pembantu di sana. Ros mengajaknya bermain di sebuah masjid.  Di masjid inilah Aqila belajar membaca Alquran dengan metode Iqro, yang menyenangkan, berirama, dan dibawakan secara ringan. Pengalaman Aqila belajar Alquran dan teladan dari kakeknya inilah yang  menggugah mata hatinya, tentang kebesaran Allah SWT yang menciptakan alam semesta.