Newsticker

Disdik Kota Bandung Gelar Kaulinan Barudak di ECO Bambu Cipaku




Kaulinan Barudak di ECO Bambu Cipaku

Dinas Pendidikan Kota Bandung melalui Bidang PPSMP menggelar launching Implementasi penguatan dan pengembangan pendidikan karakter Bandung Masagi melalui program kaulinan barudak lembur sebagai upaya penguatan cinta budaya Sunda di Sanggar Seni Budaya ECO Bambu Cipaku, Jalan Cipaku Indah XI No.8 Kelurahan Ledeng, Kecamatan Cidadap, Kota Bandung.

Rangkaian kegiatan ini telah dimulai sejak tanggal 19 Agustus 2017 yang dihadiri oleh 426 peserta, terdiri atas semua kepala sekolah dan wakasek kurikulum SMP negeri dan swasta. Kemudian dilanjutkan dengan mengajak perwakilan siswa dari seluruh SMP negeri Kota Bandung sejumlah 2.280 orang untuk dibina mengenalkan kembali kekayaan budaya Sunda yang dilakukan secara bertahap dan terjadwal setiap hari Selasa dan Sabtu, dan berakhir pada tanggal 5 September 2017. Setiap SMP negeri mengirimkan perwakilan 40 orang siswanya.

Ditindaklanjuti di sekolah masing-masing
Selanjutnya, kegiatan ini akan ditindaklanjuti di sekolah masing-masing dengan konsep belajar di luar kelas, memanfaatkan lingkungan, kondisi, serta sumber daya yang ada di sekolahnya, dimulai pada tanggal 7 September 2017.

Kegiatan ini merupakan program bidang PPSMP Dinas Pendidikan Kota Bandung yang turut mendukung program belajar di luar kelas. Kegiatan kaulinan barudak lembur sendiri merupakan program kerja sama
Dinas Pendidikan Kota Bandung dengan Sanggar Seni ECO Bambu Cipaku sebagai langkah dalam memberikan edukasi budaya kepada siswa sekolah mengenai kaulinan barudak lembur yang kaya akan filosofi dan bagian dari etno pedagogik yang penting bagi siswa.

Mengenai program yang sedang berlangsung ini, Hadi selaku Kepala Bidang PPSMP dan Bambang sebagai Kasi Kurikulum PPSMP Dinas Pendidikan Kota Bandung mengungkapkan bahwa para siswa di Kota Bandung harus didekatkan lagi dengan budaya lokal yaitu budaya Sunda yang merupakan kekayaan masyarakat Bandung. Hal tersebut karena dewasa ini semakin banyak anak-anak Kota Bandung yang lahir di Tatar Sunda tapi tidak mengerti budayanya sendiri.

Realitas penggunaan bahasa Sunda di kalangan siswa
Bahkan, muncul fenomena di sekolah-sekolah bahwa pelajaran yang cukup dirasakan sulit oleh siswa sekarang bukan Matematika atau pelajaran eksak lainnya, tetapi Bahasa Sunda. Dan ketika ditanyakan tentang kebiasaan menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa pengantar sehari-hari di rumah, setiap kelas yang angkat tangan rata-rata tidak lebih dari 5 sampai 8 orang. Demikian pula dengan pengenalan budaya Sunda, jumlahnya tidak jauh berbeda. Realiti ini cukuplah memprihatinkan.

"Selain itu, adanya arus informasi dan perkembangan teknologi yang sangat pesat, sangat mempengaruhi kebiasaan dan perilaku siswa," ungkap Hadi.

Oleh karena itu, Dinas Pendidikan Bandung melalui Seksi Kurikulum Bidang PPSMP, mengembangkan konsep pembelajaran di luar kelas dalam rangka memperkuat pendidikan karakter khas Bandung dengan cara mengenalkan kembali kekayaan budaya Sunda melalui kaulinan barudak lembur sebagai stimulan awal. Ditegaskan pula program ini bertujuan agar warga Bandung, melalui persekolahan, tergiring untuk kembali mencintai dan ngamumule budaya Sunda.