Newsticker

Festival Film Bandung (FFB): Catatan Film Nasional 2016 - 2017




Festival Film Bandung ke-30 Tahun 2017

Dari 114 judul film nasional tahun ini, seperti biasa yang telah dilaksanakan bertahun-tahun bahwa pengamatan dibagi menjadi empat periode waktu pengamatan. Setiap tiga bulan sejak Agustus tahun lalu, diadakan diskusi (baik langsung atau dalam grup WA/medsos) dalam rangka mengusulkan film-film yang akan diamati lebih lanjut.

Setiap periode selalu ada film yang disepakati untuk diamati lebih lanjut. Pokoknya setiap periode ada yang dipilih untuk diamati lebih lanjut. Setiap periode tersebut setidaknya ada dua puluh judul lebih yang kemudian FFB setujui bersama. Dari dua puluh film inilah tim pengamat Festival Film Bandung (FFB) mengambil calon nomine untuk kategori yang akan diberi penghargaan terpuji.

Dalam tahap ini kadang diskusi menjadi lebih berat ketika ada masukan bahwa film tertentu yang tadinya diusulkan banyak pengamat, ternyata ada kesamaan konsep, atau mungkin “terinspirasi” oleh film lain dari belahan dunia lain. Diskusi pun kemudian beralih kepada seberapa banyak film itu “terinspirasi atau terpengaruh” oleh film sebelumnya.

Pengamatan dari Agustus 2016 s.d. Juli 2017
Pengamatan Film Nasional yang dilakukan dalam tahun pengamatan FFB 2016-2017 sejak awal Agustus 2016 hingga akhir Juli 2017 yang tayang di seluruh bioskop di Kota Bandung. Dalam hal ini dapat dikatakan berbanding lurus dengan tahun pengamatan 2015-2016 yaitu jumlahnya 115 judul film nasional beda tipis.

Dari catatan jumlah film yang tayang di seluruh bioskop di Kota Bandung, tema film masih didominasi oleh film bergenre horor, namun demikian tema beragam lainnya mulai menggerus tema film horor ini, sebut saja genre film drama religi, genre drama remaja dan komedi. Film bertema biopik atau sejarah cukup stabil baik dalam jumlah maupun kualitas, dan selain itu tema lama yang mulai muncul lagi di periode ini adalah action atau laga.

Namun yang menarik untuk diperhatikan adalah berdasarkan data tersebut terlihat pergeseran kecenderungan target penonton film nasional yang mulai mengarah ke penonton remaja serta film anak-anak yang lebih banyak dari tahun lalu, seperti: Mimpi Anak Pulau, Wonderfull Life, Iqro: Petualangan Meraih Bintang, Satria Heroes, Ayu Anak Titipan Tuhan dan Petualangan Singa Pemberani Atlantos 2.

Porsi penonton remaja
Dilihat dari jumlah penonton maka sepanjang tahun 2016 – per tanggal 1 Agustus 2016 (sumber filmindonesia.or.id) daftar jumlah penonton di 10 Besar menyiratkan keberagaman genre namun porsi penonton remaja mendominasi raihan penonton terbanyak. Hal ini cukup berkorelasi dengan daftar nominasi Film Terpuji di FFB tahun 2016 yang secara siginifikan menempatkan beberapa film yang memiliki raihan penonton banyak dengan daftar nominasi yang artinya secara kualitas di mata FFB mengalami beberapa kemajuan. Namun demikian tidak berarti FFB hanya menyorot pada film-film yang laku, namun banyak juga film-film yang sebenarnya sangat berkualitas tapi sepi penonton.

Kisah biografi atau tema yang mengisahkan soal perjalanan hidup seseorang bermunculan sepanjang pengamatan tahun ini. Jika beberapa tahun lalu kisah semacam ini kurang mengena di pasaran, tak demikian halnya dengan saat ini. Dengan penggarapan yang lebih serius dengan sentuhan film seni namun natural. Kisah semacam ini disuguhkan dan menjadi tontonan yang cukup menyegarkan, dan di antaranya juga dinilai cukup menjanjikan.

114 judul film nasional
FFB mengapresiasi 114 judul film nasional yang tayang di seluruh bioskop Kota Bandung pada periode Agustus 2016 hingga Juli 2017 selama satu tahun pengamatan dengan memberikan penilaian kepada hampir 58% dari total 114 judul film nasional sebagai layak untuk diperhatikan lebih detail. Sistem penilaian tahun ini melibatkan lebih banyak pengamat, dari kalangan generasi muda, yang merupakan anggota aktif dari beberapa komunitas film pendek di kota Bandung, blooger film dan penonton aktif turut memperkaya keberagaman film yang diamati dan dinilai.

Akses lebih luas terhadap film-film yang kadang hanya tayang tak lebih dari 7 hari di bioskop-bioskop Kota Bandung perlu dilakukan secara aktif, dan indikator terhadap kualitas film yang diamati menjadi masukan berharga bagi sistem penilaian FFB. Dari 58% total film yang layak diperhatikan lebih detail, hanya setengahnya saja atau lebih-kurang dari 25% dari 114 judul film nasional yang teramati sepanjang periode ini yang mendapat tempat dan ruang dalam diskusi lebih lanjut di FFB dan dari sekitar 30 Judul film tersebut tersaring 15 daftar calon Nominasi Film Terpuji beserta beberapa judul film lain yang dinominasikan unsur-unsurnya (narafilmnya).

Pada akhirnya, banyak film nasional berkualitas yang telah dihasilkan. Hal tersebut membuat para pengamat (juri) sering harus berdebat dalam setiap pertemuan untuk memilih yang "terpuji" di antara film-film yang layak dipuji. Perdebatan FFB akhirnya mengerucut pada beberapa film, dengan berbagai pertimbangan, dan tentunya dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Semoga dengan pengamatan FFB ini, minat masyarakat untuk mengapresiasi karya film nasional dapat tumbuh semakin baik. (Forum Film Bandung)