Informasi

Pasca Tragedi Ricko Andrean, Saatnya Menghapus Sisi Gelap Rivalitas Suporter




Pemakaman Ricko Andrean bobotoh Persib

Bagi bobotoh sejati, lalajo Persib adalah momen lebih dekat dengan klub kesayangan, bergembira, meluapkan perasaan, silaturahmi, dan energi positif lainnya. Bahka bisa dikatakan bahwa menonton pertandingan adalah ruang bersatunya ragam elemen masyarakat khususnya di Tatar Sunda dengan satu tujuan: mendukung Persib

Zaman 80an bisa dirasakan bagaimana pertandingan Persib menjadi ruang bersatunya masyarakat sekampung lalajo bareng TV hitam putih di lapangan RW atau mendengarkan suara komentator Sambas Mangundikarta yang bikin geregetan. Inilah bobotoh yang sejatinya dalam bahasa Sunda mempunyai arti 'pendukung, suporter, yang memberi semangat'.

Bobotoh bukanlah bias menjadi makna yang menyempit jadi sebutan bagi organisasi suporter. Bobotoh adalah sosok-sosok yang biasa siapa saja dengan tujuan memberi dukungan, entah itu memberi dukungan pada klub sepak bola, anak yang sedang lomba, atau kegiatan lainnya yang bersifat event pertandingan/perlombaan.

Dari era jadul hingga zaman generasi gadget, tradisi itu tidak luntur. Namun kini, hal tersebut dicederai dengan aksi-aksi brutal yang memakan korban, hingga saudaranya sendiri. Itu terjadi akibat fanatisme buta. Dan mungkin baru dalam catatan sejarah suporter Persib, seorang bobotoh harus meregang nyawa di tangan (oknum) bobotoh sendiri. Sungguh hal yang miris dan tragis.

**
Pemakaman umum Cikutra menjadi tempat peristirahatan terakhir Ricko Andrean. Almarhum akhirnya menghembuskan napas terakhir pada Kamis, 27 Juli 2017 pukul 10.10 di RS Santo Yusuf, Bandung. Anak muda yang tinggal di kawasan Cicadas tersebut adalah korban kebrutalan oknum bobotoh yang tega mengeroyoknya. Ratusan bobotoh pun terlihat mengantar pemulangan jenazah Ricko Andrean dari RS Santo Yusup ke rumahnya di Jalan Tamim Abdul Syukur No 11, Jembar, Cicadas, Kota Bandung. Lautan massa bobotoh semakin banyak saat mengantarkan jenazah almarhum ke TPU Cikutra pada sore harinya.

Ricko, seorang pemuda yang atas nama kemanusiaan rela menjadi tameng saat ada suporter Jakmania yang dikeroyok. Ia hanya berusaha melerai pengeroyokan. Kejadian berlangsung saat pertandingan Persib VS Persija digelar di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA) pada Sabtu, 22 Juli 2017 malam. Niat Ricko melerai perkelahian yang terjadi di dalam tribun itu justru malah berujung maut bagi bobotoh berusia 22 tahun itu.

Memang aneh, ketika nyawa Ricko tak begitu berharganya di hadapan para pengeroyok nonhumanis tersebut. Mereka mengeroyok layaknya zombie menyerang mangsa, tanpa ampun. Waktu itu memang korban Ricko kebetulan tidak memakai atribut Persib karena baru pulang kerja, langsung ke stadion. Saat Ricko dan korban dari anggota The Jak digotong ke ambulans, ternyata masih saja ada yang kalap terus berusaha memukulnya meski sudah diberi tahu bahwa Ricko adalah bobotoh.

Kejadian tersebut bukan lagi ranah membela klub kesayangan bernama Persib. Ini sudah jauh melenceng dari etika dan komitmen sebagai bobotoh sejati. Mereka adalah pengkhianat prinsip "kabéh dulur", "satu jiwa", atau "maké manah" yang selama ini jadi jargon bobotoh sejati. Apalagi yang mereka serang adalah dulur sorangan. Jelas-jelas ini sudah mendobrak hukum rivalitas sejati, hukum etika, hukum negara, hingga hukum agama.

**
Tragedi yang menimpa Ricko pun langsung menyedot perhatian publik. Ragam empati pun muncul dari berbagai pihak, dari bobotoh, pejabat pemerintahan, pemain Persib, masyarakat umum, sampai laskar Jakmania yang notabene selama ini dianggap rival abadi pendukung Persib. Kisah pengeroyokan yang terjadi pada Ricko adalah sisi lain wajah kelam dunia suporter kita.

Insiden yang menimpa Ricko mendorong berbagai pihak yang berpikir jernih untuk menjadi titik awal mengubah kondisi sisi gelap wajah suporter menuju arah perdamaian. Hal ini bisa terlihat dari ragam komentar netizen yang sangat menyayangkan kejadian tragis ini hingga mengutuk pelaku pengeroyokan yang sampai saat ini masih ditelusuri pihak kepolisian.

Kapolrestabes Bandung, Komisaris Besar Polisi (Kombespol) Drs. Hendro Pandowo M.Si berjanji akan mengusut tuntas kasus pengeroyokan yang menimpa mendiang bobotoh Ricko Andrean.

"Setelah proses pemakaman kita langsung mempercepat proses investigasi. Kita akan usut sampai tuntas siapa pelakunya. Semua pelaku harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Kita sudah punya lima saksi mata. Kita doakan semua pelaku segera tertangkap. Menurut kronologis, kejadian bermula saat almarhum berniat melerai yang sedang berkelahi. Tapi, akhirnya malah dikeroyok dan meninggal. Sangat disayangkan, niat baik malah berujung seperti itu," papar Kapolrestabes.

Empati pun datang dari Ridwan Kamil yang secara langsung menjenguk korban yang dirawat di Rumah Sakit Santo Yusuf Kota Bandung, Senin (24/07/17). Pemain Persib Bandung pun tak ketinggalan menjenguk Ricko pada Selasa (25/7/2017). Kim Jeffry Kurniawan, Billy Paji Keraf, Raphael Maitimo, serta Atep datang secara bergantian untuk menjenguk Bobotoh asal Cicadas tersebut. Bahkan Ketua Umum The Jakmania, Ferry Indra Sjarief pun sengaja datang ke Bandung untuk menjenguk Rico Andrean pada Rabu (26/07/2017).

**
Kini, Ricko telah menghadap ke Sang Khalik dan meninggalkan sebuah pesan dari kisah akhir hidup yang dialaminya. Tragedi Ricko adalah tragedi dunia suporter khususnya untuk bobotoh. Ketika nyawa tak lagi berharga hanya karena sikap fanatisme buta, semuanya hanyalah kesia-siaan dan mencoreng nama baik bobotoh dan dunia sepak bola.

Sudah berapa banyak korban yang jadi tumbal akibat fanatisme buta. Dimana sepak bola harusnya menjadi ajang mendukung klub kesayangan, bukan jadi ajang melampiaskan amarah dan nafsu sesaat yang berujung tindakan barbar. Fanatisme di stadion cukup hanya urusan pertandingan 2 x 45 menit. Sebuah kebebalan bila nyawa terus bergantian menjadi tumbal. Bila rekonsoliasi hingga berujung perdamaian bisa terwujud, mereka yang jadi tumbal rivalitas tersebut layak jadi pahlawan. Dan cukup Ricko menjadi korban terakhir! (AA)