Newsticker

Pemkab Bandung Galakkan Pojok Edukasi Bersih Sampah di Pasar-Pasar




Pembersihan sampah Pasar Baleendah

Pojok Edukasi Bersih Sampah akan digalakkan sebagai penataan satu titik dari TPS liar yang tersebar. Rencananya, Pemkab Bandung akan menyediakan Pojok Edukasi Bersih Sampah di seluruh wilayah khususnya pasar. Hal tersebut diungkapkan Bupati Bandung Dadang Naser saat peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia yang diperingati dengan acara operasi bersih di Pasar Baleendah, Jumat (14/7/2017).

Lebih lanjut Dadang mengatakan bahwa Pojok Edukasi Bersih Sampah merupakan bagian upaya untuk penataan Tempat Pembuangan Sampah (TPS) liar yang tersebar. Selain penyediaan kontainer sampah, tambah Dadang, akan ada juga petugas yang melakukan sosialisasi untuk masyarakat, terkait pengelolaan sampah sehingga masyarakatpun sadar bahwa mereka juga bertanggung jawab, dari mulai mengatur sampah liar, sampai pengelolaan sampah yang dihasilkan.

"Akan disediakan kontainer sampah, juga petugas yang memberi edukasi melalui sosialisasi, teguran dan ajakan bahwa sampah tanggung jawab semua," tandasnya.

Beban sampah terlalu besar
Menambahkan hal itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Asep Kusumah menjelaskan, sebetulnya setiap pasar memiliki TPS namun beban sampah pasar terlalu besar dan kata Dia tidak sedikit pula masyarakat luarpun membuang sampah rumah tangganya ke TPS pasar.

Asep berharap Pojok Edukasi Bersih Sampah agar didukung oleh kesadaran masyarakat sehingga terjadi perubahan paradigma.

"Harus ada dukungan berupa kesadaran masyarakat sendiri, untuk merubah paradigma, bahwa sampah itu dikumpul, diangkut dan dibuang. Masyarakat bisa menjadi solusi," kata Asep. Asep menuturkan, tidak ada TPA yang mampu menampung sampah saat ini. Setiap orang kata Dia, bisa menghasilkan 2 liter sampah perhari.

"Bupati sudah menggulirkan pengelolaan sampah berbasis Rumah Tangga (RT). Setiap RT wajib memiliki lubang cerdas organik sebagai solusi sampah organik," imbuhnya.

Biofori denfan
Berdasarkan kajian, masyarakat Kabupaten Bandung menghasilkan 45 sampai 65 persen sampah organik dan lanjutnya l, jika masyarakat bisa menyediakan lubang biopori denfan diameter 10 cm dan kedalaman sekitar 1 meter, masalah sampah organik bisa teratasi.

"Ilustrasinya jika lubang cerdas organik iu bisa diterapkan, tentu 45 persen soal sampah organik bisa teratasi.Sedangkan sampah anorganiknya dipilah untuk ditampung di bank sampah, dan akan lebih efektif " tandas Asep. Di sela sela operasi bersih bersama beberapa jajaran, Asep mengajak masyarakat Kabupaten Bandung untuk menjadi sumber solusi, bukan hanya penghasil sampah saja.

"Masyarakat bisa menjadi sumber solusi karena sesuai amanat UU nomor 18 tahun 2008 tentang pengelolaan sampah, Setiap orang wajib mengurangi dan menangani sampahnya secara berwawasan lingkungan' dan yang paling penting bagaimana RT bisa bertanggungjawab atas sampah yang dihasilkan," tutupnya.