Informasi

Musyawarah Sastrawan Indonesia (MUNSI) II: Sastra sebagai Penjaga Kebinekaan




Musyawarah Sastrawan Indonesia II

Kemendikbud menghimpun para sastrawan Indonesia untuk berembuk mengenai merajut kebersamaan Indonesia. Sebanyak 180 orang sastrawan yang berpartisipasi pada Musyawarah Sastrawan Indonesia (MUNSI) II, meliputi sastrawan hasil seleksi karya, sastrawan penyumbang puisi dalam Antologi Puisi Munsi 2016, dan undangan, pelaksana program Sastrawan Berkarya di Daerah 3T; pemenang penghargaan Badan Bahasa; dan pegiat sastra.

Pada kali kedua, selama tiga hari, dari tanggal 18 s.d. 20 Juli 2017, perhelatan ini membahas tema Sastra sebagai Penjaga Kebinekaan Indonesia melalui ceramah kesastraan  yang terdiri atas tiga panel,  diskusi kelompok, dan pentas sastra.

Melalui siaran pers Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, tema ini bertujuan untuk mengingatkan kembali bangsa Indonesia bahwa melalui sastra masih dapat dirajut kebersamaan tanpa saling menafikan. Sehingga, keberagaman budaya, bahasa, dan sastra Indonesia adalah modal bersama sebagai bangsa, bukan sebagai pemisah sebagaimana yang mencuat akhir-akhir ini.

Meluncurkan empat buku antologi
Mendikbud Muhadjir Effendy pun turut berpartisipasi dengan meluncurkan empat buku antologi, yaitu Lautan Waktu, Odah dan Kuli Kontrak, Kritik Sastra Indonesia mencari Kambing Hitam, dan Puisi-Puisi Munsi.

Adapun hasil diskusi berupa langkah-langkah memajukan karya sastra Indonesia yang berkualitas; karya sastra Indonesia sebagai bahan bacaan masyarakat di negeri sendiri; terjemahan karya sastra Indonesia ke berbagai bahasa asing; karya sastra Indonesia tersebar ke kancah internasional; dan karya sastra Indonesia sebagai pengingat dan pengikat keberagaman etnik di Indonesia.

Kepala Pusat Pembinaan Gufran Ali Ibrahm, Janet De Neefe, Ignas Kleden, Rusli Marzrauki Saria, Riris K. Toha Sarumpaet, Abdul Hadi W.M., Radhar Panca Dahana, Akhmad Sahal, Suminto A. Sayuti, dan Seno Gumira Ajidarma turut berperan sebagai pembicara dalam setiap panel diskusi.