Informasi

International Physics Olympiad Digelar di Yogyakarta 17 - 24 Juli 2017




Pembukaan IPHo 2017 di Yogyakarta

Keikutsertaan Indonesia pada olimpiade sains, khususnya Fisika, di tingkat internasional sudah tidak diragukan lagi. Bukan hanya mengirimkan peserta olimpiade, negara berpenduduk 250 juta-an ini pun dipercaya menjadi tuan rumah. Tercatat, perhelatan Olimpiade Fisika Internasional atau International Physics Olympiad (IPhO), sudah sebanyak dua kali menjadi tuan rumah, yaitu IPhO tahun 2002 di Bali, dan tahun ini di Daerah Istimewa Yogyakarta selama seminggu, dari tanggal 17 s.d. 24 Juli 2017.

Saat pembukaan, Senin (17/7/2017), Indonesia mengajak 86 negara peserta IPhO 2017 untuk membangun jejaring Komunitas Fisika, sehingga dapat berperan aktif mengatasi tantangan permasalahan global.

Tantangan pembangunan global berkelanjutan
Direktur Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Dirjen Dikdasmen Kemendikbud), Hamid Muhammad, menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan dan masa depan pendidikan dihadapkan pada tantangan pembangunan global berkelanjutan yang sangat krusial. Tantangan itu, menurut Dirjen Hamid, diantaranya berupa ketimpangan pembangunan, kemiskinan, kesehatan, krisis energi dan kerusakan lingkungan karena pembangunan fisik yang tidak ramah lingkungan, dan bersifat tidak berkelanjutan.

“Tantangan ini dapat dijawab melalui pendidikan sains, khususnya Fisika yang berkualitas,” ujar Dirjen Dikdasmen, pada Pembukaan IPhO 2017, di Yogyakarta, Senin (17/7/2017).

Menurutnya, ajang ini sangat penting untuk menumbuhkan kecintaan para siswa terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, mengembangkan sains yang berkualitas dan membangun jaringan global ilmu pengetahuan, membangun masa depan dunia yang lebih baik.

Menumbuhkembangkan potensi Fisika para siswa SMA
Pada kesempatan yang sama, Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, Paku Alam X mengapresiasi manfaat IPhO bagi para siswa SMA. Perhelatan ini, lanjut Paku Alam, dapat memfasilitasi, menumbuhkembangkan potensi Fisika para siswa SMA dari seluruh dunia agar memiliki kesempatan untuk mencapai prestasi saintifiknya secara optimal di tingkat Internasional, mencari siswa-siswa unggul pada bidang sains yang diminatinya.

“Pelaksanaan Olimpiade secara berkelanjutan akan berdampak positif pada pelaksanaan proses pembelajaran untuk menjadi lebih kreatif, inovatif dan pada gilirannya siswa akan memiliki kesempatan mengembangkan seluruh aspek kepribadian dan kemampuannya,” ujarnya. 

Dirjen Hamid menambahkan, penguasaan bidang-bidang yang memfokuskan pada perubahan dan keberlanjutan masa depan dan kehidupan umat manusia diperlukan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter.

“Contohnya (penguasaan) kecerdasan buatan bidang teknologi aeronautka (pengkajian pesawat terbang dan roket), dan ruang angkasa. Sektor pengembangan energi terbarukan yang handal mudah dan bersih, inovasi penyembuhan penyakit seperti kanker, pengembangan vaksin, dan obat-obatan,” ujarnya.

Sehingga, ajang IPhO bukan sekedar menjadi sarana berkompetisi, tapi juga menyemai benih-benih saling memahami antar bangsa, dan terwujud persahabatan dan kerja sama bidang Fisika dan pendidikan Sains yang berkualitas.

“Saya meyakini para peserta IPhO merupakan calon ilmuwan muda dunia, yang akan memperoleh pengalaman berharga, sehingga lebih menyukai Ilmu Fisika. Kecintaan itu diungkapkan dengan berperan lebih jauh lagi untuk menjawab tantangan pembangunan dunia,” pesan Dirjen Hamid.

IPhO merupakan kompetisi tahunan yang diselenggarakan secara individual, bagi siswa jenjang Sekolah Menengah Atas. Para peserta mengikuti dua jenis tahapan lomba yaitu tahap teori, dan praktek. Masing-masing negara dapat mengirimkan maksimal lima orang peserta dengan dua guru pendamping.

Integrasi pembinaan bakat dan prestasiBagi Indonesia, peningkatan kualitas dan pembangunan karakter anak-anak Indonesia menjadi tujuan utama. Hal ini terlihat pada proses integrasi seleksi yang dilakukan untuk mengikuti perhelatan internasional ini.

“Ada kurang lebih 53 juta anak Indonesia, dan IPhO merupakan puncak dari seluruh rangkaian pembinaan bakat dan prestasi peserta didik di seluruh Indonesia dalam bidang Fisika,” ujar Dirjen Hamid.

Pembinaan bakat dan prestasi, lanjut Dirjen Hamid, berlangsung secara terintegrasi bersama dengan dosen perguruan tinggi, para guru, dan pemerintah daerah (Pemda) melakukan pemanduan bakat pembinaan dan seleksi secara berjenjang.

“Kami selenggarakan Olimpiade Fisika dan delapan bidang sains lainnya untuk semua siswa siswa terbaik di Indonesia,” ujarnya.

Seleksi itu berlangsung mulai dari tingkat sekolah, daerah, kabupaten kota, hingga nasional. Sehingga, terdapat aturan dan mekanisme seleksi yang terpadu, untuk dapat mendorong para siswa mencintai Sains.

Dirjen Hamid mengungkapkan, di Indonesia, terdapat lebih dari 5.000 siswa mengikuti olimpiade Sains dan Fisika tingkat daerah, dan lebih dari 90 siswa terbaik mengikuti Olimpiade Fisika Tingkat Nasional. Kemudian, sebanyak 30 siswa terbaik di setiap bidang dipilih pada jenjang Olimpiade nasional, dan dipersiapkan untuk mengikuti seleksi delapan olimpiade sains tingkat internasional, termasuk IPhO.