Newsticker

Persib: Budaya dan Jatidiri Urang Sunda




Persib adalah Budaya

Persib, bukan sekadar nama klub sepakbola. Persib pun bukan hanya milik urang Bandung. Persib adalah bagian jatidiri urang Sunda. Di zaman revolusi, Persib pernah ber-basecamp di daerah-daerah di Jawa Barat. Bila merunut pada sejarahnya cikal bakal Persib berasal adari BIVB, salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis pada masa itu dengan Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.

Atot pulalah yang tercatat sebagai Komisaris Daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega di depan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan di luar kota seperti Yogyakarta. Dan bila sekarang Persib identik persaingan dengan Jakarta dari urusan persaingan suporter Persija, rasanya sudah jauh dari akar historis.

Zaman Belanda hingga zaman Revolusi, Persija adalah lawan tanding setia Persib dimana salah satunya biasa digelar di kawasan Jatinegara, Jakarta. Ya, dulu Persib dengan Persija adalah urusan persaingan hanya di lapangan, bukan sampai anarkis antarsuporter. Hingga era 80-an, suporter Persib dan Persija masih bisa adem ayem nonton di satu tribun yang sama tanpa ada gesekan. Entah dari mana cikal bakal gesekan antarsuporter seperti era kekinian tersebut bermula.

Nama Persib pun tak bisa dilepaskan cikal bakal lahirnya PSSI. Dimana pada tanggal 19 April 1930, BIVB bersama dengan VIJ Jakarta, SIVB (Persebaya), MIVB (PPSM Magelang), MVB (PSM Madiun), VVB (Persis Solo), dan PSM (PSIM Yogyakarta) turut membidani kelahiran PSSI dalam pertemuan yang diadakan di Societeit Hadiprojo Yogyakarta.

Persib: muara persatuan urang Sunda
Persib adalah tradisi turun temurun dimana menonton dan mengagungkannya menjadi budaya di masyarakat Tatar Sunda. Perjalanan klub berjuluk Maung Bandung tersebut tak bisa dilepaskan dari kecintaan masyarakat dari generasi ke generasi.

Segala hal yang dekat dengan Persib akan jadi kareueus (kebanggaan) tersendiri bagi para Bobotoh, dari foto bareng dengan para pemain atau pelatih; mengoleksi jersey Persib; lalajo di stadion atau nobar; sampai mengawal bus tim Persib konvoi dengan motor. Jadi ketika ada pekik "Persib nu aing!", itu bukan sekadar jargon namun benar keluar dari hati paling dalam. Kata "aing" bermakna pengakuan yang paling heuras dan jero pisan, bukan dipilih "abdi" atau "kuring".

Persib adalah salah satu muara bersatunya urang Sunda. Bobotoh tak kehilangan antusiasme pada Persib, mau menang atau kalah, Persib tetap di hati. Rasanya ada yang kurang bila pertandingan Persib terlewat, walau hanya nonton di TV. Persib adalah elan vital, energi dan daya pendorong hidup di sanubari penggemarnya. Maka ada ungkapan, bila Persib menang "dahar tibra, dahar ge mirasa". Sebaliknya, bila Persib kalah, gundah gulana bin galau pun akan dirasakan berjamaah di kalangan Bobotoh.

Hal tersebut kadang yang jadi pelecut pemain dan ofisial Maung Bandung untuk terus ngagawur dengan terus berupaya membenahi segala kekurangan. Karena kadang di sisi lain, rasa kecintaan yang over dari Bobotoh kerap jadi ekspektasi berlebihan, dimana Persib harus dituntut untuk terus menang.

Inilah yang harus lebih dipahami bagi penggemar sejatinya, namanya olahraga kadang ada naik-turunnya. Menjaga nama besar Persib bukan hanya tugas pemain, ofisial, dan manajemen. Bobotoh pun dituntut untuk terus lebih dewasa. Miris kadang, ketika ada aksi vandalisme fasilitas kota oleh oknum Bobotoh hanya karena Persib kalah. Atau Persib kena denda karena polah Bobotoh di stadion yang bertingkah melampaui batas, semisal menyalakan flare atau berteriak rasis. Saya teringat perkataan jenatna Kang Ibing tentang hal tersebut: "Lamun bener nyaah, tong ngaruksak! Persib nu aing, tapi lain kumaha aing!"

Persib adalah budaya
Elemen masyarakat di Jabar pun lekat dengan Persib. Para seniman dari PAS Band, Kuburan Band, Mobil Derek, Jeruji, Koil, PHB, Mocca, Doel Sumbang, hingga Kang Ibing pun pernah membuat lagu khusus untuk Persib. Tokoh-tokoh/pemimpin di Jabar pun rasanya akan hambar bila jaga jarak dengan namanya Persib. Hubungan Persib dengan tentara? Tim Maung Bandung punya kesejarahan dengan Stadion Siliwangi yang notabene berada di kompleks Kodam III/Siliwangi. Hingga para sponsor pun dari waktu ke waktu tak ingin kehilangan momen untuk mendukung pendanaan Persib.

Dari anak TK sampai aki-aki akan langsung sumanget bila membicarakan Persib. Maka jangan heran bila saat pertandingan Persib, Bobotoh akan membeludak. Kaos-kaos dan merchandise seputar Persib akan terus memutar denyut perekonomian para pelaku usaha yang berhubungan dengan klub Pangeran Biru ini.

Stasiun televisi sengaja memilih tayangan primetime untuk tayangan Persib karena sadar dari segi bisnis penonton Persib adalah pasar potensial. Media cetak maupun situs portal online tak lengkap rasanya bila tak menghadirkan warta Persib, karena update seputar Persib pasti banyak yang memburu. Sementara bagi para pelaku usaha realita jutaan pendukungnya usaha adalah sisi bisnis yang tak bisa dikesampingkan begitu saja. Malah bagi para politisi,  kedekatan dengan ribuan Bobotoh punya nilai pencitraan tersendiri.

Walaupun bagi Bobotoh, Persib adalah segalanya, tak ada urusannya dengan politik. Inilah yang harus diperhatikan oleh para politisi, jangan sok merangkul Bobotoh bila tidak ingin nantinya jadi bumerang. Biarkan Bobotoh apa adanya, jangan dicampurkan dengan tinta politik yang jadinya bakal memperkeruh. Anda tokoh, politikus, selebritis, atau siapa pun bila ingin nonton Persib, lepaskan baju kebesaran Anda. Jadilah Bobotoh murni yang tidak "jaim", sama rata sama rasa: gogorowokan dan ajrut-ajrutan bareng tanpa beban.

Legenda Persib
Nama-nama pemain Persib dari waktu ke waktu adalah legenda yang melekat di hati para Bobotoh. Mereka bukan sekadar pemain, bagi para Bobotoh para pemain tersebut bak superhero yang punya jasa dalam menjaga harga diri dan martabat Persib. Nama Aang Witarsa, Amung, Ganda, Freddy Timisella, Adjat Sudradjat, Djajang Nurdjaman, Robby Darwis, Yudi Guntara, Sutiono Lamso, Yaris Riyadi, hingga era Atep dan Febri Hariyadi adalah sosok-sosok kebanggaan tersebut.

Sementara menonton Persib adalah tradisi yang ditularkan dari kakek ke anak, dari anak ke cucu, dan begitu seterusnya dari zaman era Perserikatan hingga era Go-Jek Traveloka Liga 1 sekarang. Lalajo Persib bukan hanya tontonan, namun sekaligus sebagai hiburan, ajang silaturahmi, juga mengekspresikan diri.

Bila ingin merasakan bagaimana atmosfer urang Sunda bersatu, lihatlah puluhan ribu Bobotoh yang sedang lalajo di stadion. Bobotoh yang ke stadion bukan hanya dari Bandung, namun juga datang dari berbagai daerah di Jawa Barat, seperti Garut, Tasikmalaya, Sukabumi, Purwakarta, Bogor, Subang, Sumedang, Ciamis, Karawang, Indramayu, Cianjur, dan daerah lainnya.

Anda bisa menyaksikan bagaimana Bobotoh duduk sebelahan yang awalnya tidak kenal jol jadi akrab. Atau bagaiamana mereka berbagi makanan (botram) bareng saat jeda babak 1 ke babak 2. Bagi Bobotoh, nonton Persib bukan sekadar nonton pertandingan olahraga, namun juga sebagai ajang rekreasi melepaskan penat. Namanya juga kameumeut, maka ketika ada yang dianggap mengganggu nama besar Persib, tong aneh bila Bobotoh pun akan bereaksi layaknya sarang lebah yang diusik.

Bobotoh
Dan nama Bobotoh bukan sekadar mengandung arti "pendukung", Bobotoh adalah bagian dari denyut Persib. Walau kadang kerap ada pemaknaan kurang tepat yang menganggap Bobotoh adalah elemen organisasi penggemar Persib. Bobotoh sejatinya adalah sebutan suporter khusus bagi Persib (walau makna sebenarnya secara umum bisa pendukung apa saja, namun sudah mengalami penyempitan makna). Bobotoh bisa siapa saja: Viking, Bomber, tukang becak, tukang dagang, anak kecil, kakek-kakek, ibu-ibu, dan lainnya yang selalu mendukung Persib.

Kesetiaan Bobotoh terhadap Persib tak perlu dipertanyakan lagi. Mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk mendukung klub pujaannya. Dari sekadar nonton latihan para penggawa Persib; nabung dan membeli karcis dari era konsep konvensional hingga era online sekarang; rela mapay-mapay galengan sawah menuju GBLA karena akses ke stadion yang belum optimal; atau rela putus demi memilih nonton Persib dibanding nganter kekasih yang maksa diantar belanja. (Abah)