Newsticker

Menteri Perindustrian Kunjungi Sentra Rajut Binong Jati


Kunjungan Menteri Perindustrian ke Sentra Rajut Binong Jati

Kota Bandung memiliki 30 sentra industri yang tersebar di berbagai wilayah, salah satunya adalah sentra industri rajut yang terletak di kawasan Binong Jati. Daerah tersebut telah tumbuh menjadi pusat produksi tekstil rajut sejak tahun 1960-an dan telah tumbuh pesat hingga kini.

Wali Kota Bandung M. Ridwan Kamil ingin menunjukkan potensi industri tekstil itu kepada Menteri Perindustrian RI Airlangga Hartarto yang tengah melaksanakan kunjungan kerja ke Kota Bandung. Jumat (7/4/2017), Ridwan mengajak Menteri Airlangga untuk melihat perkembangan sentra industri kecil menengah andalan Kota Bandung itu.

Tepat pukul 15.00, Ridwan dan Airlangga tiba di Binong Jati. Setelah turun dari kendaraan dinasnya, keduanya didampingi jajaran Kementerian dan Pemerintah Kota memasuki jalan-jalan kecil menuju pusat produksi beraneka jenis pakaian rajutan. Ada tiga rumah produksi dari total 290 unit usaha rajut yang didatangi oleh rombongan tersebut.

Bisnis turun temurun
Di sela-sela kunjungannya, Airlangga mengobrol dengan pemilik rumah produksi yang rata-rata adalah pemegang unit usaha generasi ketiga. Bisnis itu telah dijalankan secara turun temurun oleh warga setempat. Airlangga pun mengapresiasi kreativitas dan keuletan para pengrajin rajut.

Namun demikian, Airlangga melihat bahwa mesin-mesin maupun fasilitas yang digunakan oleh para pengrajin adalah teknologi yang belum diperbaharui. Sebagian besar, pengrajin menggunakan mesin produksi tahun 1960-an. Untuk itu, warga mengharapkan ada bantuan dari pemerintah agar bisa memfasilitasi ketersediaan mesin dengan teknologi terbaru sehingga mereka bisa menyalurkan kreativitasnya dengan lebih optimal.

Pada sesi diskusi bersama para pengrajin, Airlangga mengemukakan bahwa pemerintah pusat, bekerja sama dengan pemerintah kota, akan berupaya memfasilitasi kebutuhan para pengrajin.

“Kalau para pengrajin membutuhkan alat, kita buat UPT saja biar bisa disediakan workshop. Kita bantu mesin rajut. Tapi nanti mesin itu dimanfaatkan untuk koperasi, jadi bisa gantian untuk beroperasi,” ucap Airlangga yang disambut warga dengan antusias.

Taman Kampung Rajut
Bagi mereka, kebutuhan mesin teknologi terbaru adalah untuk memudahkan para pengrajin untuk merancang motif baru, tidak sekadar variasi garis seperti yang dibuat sekarang. Melalui teknologi baru dengan sistem komputerisasi, motif-motif rajut akan lebih beraneka ragam sehingga bisa memunculkan kreativitas warga dalam berkarya.

Di samping itu, Ridwan Kamil juga mengatakan akan mengupayakan bantuan mesin sejenis untuk sarana berkreasi. Namun untuk sementara, mesin tersebut akan ditempatkan di Gedung Bandung Creative Hub dulu sambil ia menyiapkan infrastruktur yang memadai di Binong Jati.

“Ke sana aja dulu, nanti kalau sudah siap, mesin itu kita pindahkan ke rumah yang sebenarnya,” ujar Ridwan. Pernyataan tersebut menyusul rencana akan dibangunnya Taman Kampung Rajut.

Taman Kampung Rajut adalah jawaban dari keinginan warga untuk menjadikan sentra industri itu sebagai kawasan wisata. Taman tersebut diharapkan akan menjadi pusat kegiatan wisata rajut yang akan menyediakan display produk, kelas workshop, dan berbagai aktivitas lainnya. (Humas Setda Kota Bandung)