Informasi

Pengaruh Banjir pada Sektor Wisata Bandung




Banjir yang melanda beberapa titik di kawasan Bandung akhir-akhir ini secara langsung memberikan imbas kurang baik bagi sektor wisata. Apalagi beberapa kawasan yang dikenal sebagai jalur wisata pun terdampat banjir. Belum lagi dengan dampak bawaan lain yakni kemacetan dan longsor. Seperti salah satunya kawasan Pasteur yang selama ini menjadi pintu masuk wisatawan ke pusat Kota Bandung. Selain akses keluar tol Purbaleunyi, di kawasan Pasteur pun ada hotel, mall, hingga pool jasa travel yang sudah dikenal wisatawan.

Berita deras dan tingginya air banjir yang menghantam Pasteur, malah merendam mobil-mobil yang parkir, menjadikan image sektor wisata pun ikut kena getahnya. Dimana para wisatawan jadi waswas dan ini terbukti dengan banyaknya pertanyaan dari wisatawan luar kota kepada tim redaksi tentang informasi kawasan Pasteur terkini. Video dan foto-foto yang menyebar di internet bikin miris yang melihatnya. Ini menjadikan tak sedikit para wisatawan menahan diri sementara untuk berkunjung ke Bandung.

Memang guyuran hujan dibarengi angin kencang dari cuaca ekstrem yang terjadi pada penghujung 2016 lebih dari biasanya. Debit air begitu deras malah sampai ada yang menumbangkan pohon dan terputusnya beberapa jalur untuk sementara. Ini bisa dilihat di kawasan Pagarsih yang beberapa kali dihantam banjir akbiat luapan Sungai Citepus. Perekonomian masyarakat di kawasan yang dikenal sebagai sentra percetakan di Kota Bandung ini untuk sementara terganggu dengan terjangan banjir.

Imbas Lain: Macet dan Longsor
Sementara di kawasan lain, banjir pun turut mengganggu aktivitas dan perekonomian masyarakat. Ini terlihat di kawasan Bandung Selatan yang banjirnya termasuk paling parah. Banjir di kawasan Dayeuhkolot, Baleendah, dan Bojongsoang turut menghentikan kegiatan usaha untuk sementara. Termasuk juga usaha bidang wisata dan kuliner. Misalnya di daerah Baleendah ada objek wisata waterboom di Jln. Raya Banjaran yang jalurnya terhalang banjir para di kawasan Pasar dan Jembatan Dayeuhkolot.

Walaupun akses bisa dijangkau dengan jalur alternatif tapi imbas banjir menyebabkan kemacetan parah yang menganggu perjalanan wisatawan. Ini bisa terlihat di jalur Jln. Bojongsoang yang biasa kemacetan mengular saat banjir. Belum lagi di kawasan jalur Bojongsoang - Baleendah dan sekitarnya terdapat sentra-sentar kuliner. Para pelaku usaha kuliner pun turut terkena imbas dari banjir rutin Bandung Selatan.

Sementara tempat wisata di kawasan Kab. Bandung Barat pun harus tutup sementara karena jalurnya longsor. Ini salah satunya menimpa objek wisata Curug Cimahi (Curug Pelangi) dimana jalur Jalan Kol. Masturi ada yang longsor. Sementara di jalur timur, banjir rutin di jalan depan Kahatex pun kerap terjadi yang mengganggu mobilitas warga yang melintas ke daerah Garut dan sekitarnya. Aktivitas wisata di Garut pun pasti terdampak karena pengunjung wisata kebanyakan dari luar Garut.

Dampak Pemberitaan
Rentetan kejadian akibat banjir memang sangat mempengaruhi sektor wisata. Tingkat hunian hotel dan kunjungan wisata ke tampat kuliner pun ikut menurun. Pengaruh pemberitaan, baik di media elekronik, media cetak, dan media sosial turut mempengaruhi para wisatawan untuk menahan diri dulu melancong ke Bandung. Parahnya, pemberitaan ini kadang diterima gebuk rata seakan-akan semua kawasan di Bandung tidak aman untuk dikunjungi.

Memang hak para wisatawan untuk berjaga-jaga dari segala kemungkinan. Mungkin, daripada beresiko memaksakan datang, nanti mobilnya kena banjir, tertimpa pohon, lewat daerah longsoran, atau malah terjebak macet berjam-jam. Inilah tugas para pemangku kepentingan untuk segera mengambil solusi agar cap Bandung sebagai kota kurang nyaman saat musim hujan harus dibenahi. Hal ini karena namanya musim hujan akan berulang setiap tahun. Dan apakah kondisinya akan seperti ini terus berulang?

Langkah Solusi Bersama
Langkah-langkah konkret sebagian telah diambil. Misalnya, pihak Pemkot Bandung segera menertibkan jalur lintasan air di kawasan Pasteur dengan membongkar beberapa penghalang. Untuk longsor di daerah Kab. Bandung Barat langsung dibenahi dan jalan ditutup sementara selama dua hari oleh pihak kepolisian. Sementara untuk daerah Bandung Selatan, solusi penanganan banjir terlihat masih jalan di tempat setiap tahunnya. Rutinitas banjir di kawasan Bandung Selatan sepertinya mungkin seperti biasa hanya bisa "selesai" kalau musim hujan berganti musim kemarau, alias surut alami saja.

Namun, upaya pun tengah disiapkan oleh pihak pemerintah daerah di bawah koordinasi Provinsi Jabar. Belum lama ini sebanyak lima kota/kabupaten (Kota Bandung, Kab. Bandung, Kota Cimahi, Kab. Bandung Barat, dan Kab. Sumedang) dan Lembaga Negara menandatangani kesepahaman untuk mengkoordinasikan penanganan potensi banjir secara bersama-sama. Ini berkaitan dengan penanganan langsung juga pengeluaran kebijakan peraturan terkait tata lingkungan.

Sekarang, masyarakat tinggal menunggu realisasinya bagaimana para pemimpin bekerja mengatasi banjir yang jika terus dibiarkan akan lebih para ke depannya. Di lain pihak, masyarakat sendiri dituntut untuk memberi andil pada terciptanya lingkungan sekitar yang bebas dari banjir, dari tidak membuang sampah sembarangan hingga memperhatikan pembangunan gedung/rumah yang tidak menganggu jalur air.