Newsticker

Militansi Promosi Wisata Bandung Ala Blogger dan Netizen Media Sosial




Seiring berkembangnya dunia media sosial (medsos), kehadiran selfie alias swafoto semakin merebak. Para pemilik akun menjadikan jejaring sosial sebagi media untuk ajang eksis, berbagi informasi, atau membagi informasi lainnya lewat media foto. Pengunggahan foto ke jejaring sosial semakin hari seakan menjadi bagian penting dalam berbagi informasi para pemilik akun. Inilah yang menjadikan salah satu booster terangkatnya wisata di Bandung. Pergerakan informasi secara real time dan menyebar secara viral di dunia maya bagi Bandung adalah berkah tersendiri.

Di sisi lain, ada yang patut dicermati selain netizen swakelola, terdapat pula komunitas blogger di Bandung yang turut memberikan sumbangsih akan promosi wisata Bandung. Tulisan ini pun berangkat dari bincang-bincang dengan para blogger (baik berbasis blogspot atau wordpress) di Bandung yang konten-kontennya concern pada bidang wisata di seputaran Bandung (Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Cimahi).

Bukan Amatiran
Ada sisi menarik dari para militan penulis dan pengelola blog tersebut. Patut dicatat, bahwa kebanyakan mereka bukan blogger yang amatiran. Ini terbukti dengan penguasaan mereka dalam mengelola kualitas tulisan, search engine optimitazion (SEO), pengelolaan media sosial dengan jumlah followers ribuan, interaksi mereka dengan para wisatawan dalam dan luar negeri, hingga membentuk jaringan dengan para pelaku usaha di bidang wisata (kuliner, tempat wisata, event organizer, hotel, dsb.).

Apa yang saya ingin angkat adalah masalah kepedulian pihak pemerintah dan keberadaan para pegiat media online tersebut. Dari pengakuan para blogger dan pengelola akun media sosial, ternyata mereka merasa sangat kurang dukungan. Sementara semangat mereka dalam menulis seputar wisata Bandung sudah bertahun-tahun dan sampai sekarang masih terus aktif. Efeknya ya tadi, para wisatawan pun banyak yang mengambil manfaat informasi dari review-review yang mereka tulis dalam konten postingan.

"Bandung punya Komunitas Penggerak Pariwisata (Kompepar), tapi diamati mah hayoh we sibuk nyieunan event. Padahal kan komunitas bagian dari Disparbud itu tugasnya mempromosikan di media lain juga. Namanya promosi tak melulu harus menghabiskan anggaran dengan event atau studi banding. Cik atuh kali-kali mah dukung para blogger atau pegiat media sosial yang membahas wisata Bandung," katanya dengan raut muka agak kecewa.

Dari "curhat" blogger lainnya pun juga ditangkap kesan bahwa pihak pemerintah terkait (pemerintah Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Cimahi). Kurang begitu memberi support, baik dalam bentuk dukungan bantuan dana promosi, pelatihan internet, atau penyediaan fasilitas pendukung. Inilah mengapa saya berani menyebutnya para militan.

Mereka dengan kemampuan sendiri mengoprek SEO, bikin vlog, mengelola media sosial, menyewa domain, update menulis artikel wisata tiap hari, hingga berkeliling ke tempat-tempat wisata dengan dana sendiri. Ini semua mereka lakukan demi kecintaan pada kotanya. Ini tentunya berbeda dengan media online yang sudah dikelola profesional dengan bentuk PT atau CV dan didukung sponsor.

"Ari saya mah, seperti Kang Ridwan Kamil jangan hanya mempromosikan para jomblo dengan Ha!, Sah, atau 32K-nya. Cik atuh kali-kali mah promosikan juga situs, blog, atau akun medsos yang mempromosikan wisata Bandung. Syukur-syukur merangkul kita dengan membuka media pelatihan atau jaringan ke sponsor di Bandung," kata salah seorang blogger, Iwan, yang domisilinya tinggal di Kota Bandung.

Beda lagi dengan Indra yang tinggal di Kabupaten Bandung. Menurutnya, mengelola blog dan media sosial yang membahas seputar wisata Kabupaten Bandung seperti jauh panggang dari api.
"Aaah.. boro-boro mikirin kami meureun. Padahal potensi wisata Kabupaten Bandung teh gede pisan. Saya kadang pusing jadi tukang jawab e-mail, BBM, dan SMS dari wisatawan yang menanyakan info wisata di Kabupaten Bandung. Apalagi kalo yang nanyanya wisatawan asing, kapaksa pake Google Translate, walau jawabannya acakadut ge. Tapi kadang mereka mafhum. Padahal itu sabenerna tugas dinas terkait pariwisata nya? Mereka yang harus menyediakan kontak info buat wisatawan. Untuk Kabupaten Bandung mah leuwih rame masalah banjir meureun tibatan promosi wisatanya."

Promosi Wisata Menjangkau Lebih Luas
Ya, inilah realita ketika zaman mencari informasi ada di genggaman tangan. Dan mereka lebih sudah lebih jauh melangkah dengan memanfaatkan kemampuan mereka menulis secara rutin, mereview tempat wisata, mengoprek script PHP atau HTML, juga memanfaatkan gadget untuk mengenalkan potensi wisata dengan menggunakan Instagram, Twitter, Line, Facebook, atau Path.

Mereka kadang rela semalaman begadang untuk menulis dan mengelola blog. Kadang, mereka pun membantu para pelaku usaha wisata yang belum memasang profil tempat usahanya di Google Maps. Tak sedikit mereka yang jadi Pemandu Lokal (Local Guide) Google Maps. Dan, untuk mendukung operasional pengelolaan blog/akun medsos, pulsa internet, hingga biaya listrik, mereka menyiasatinya dengan memasang iklan PPC, menjalin kerja sama sponsorsip, atau sambil jualan online.

Padahal, pergerakan mereka dalam promosi di internet memberikan pengaruh langsung pada laju perkembangan potensi wisata di Bandung. Mau tak mau, kehadiran internet, gadget, blog, website, dan media sosial adalah bagian penting di zaman digital ini yang menjadikan potensi suatu wilayah dapat lebih dikenal di kancah lokal maupun global.

Terakhir, pertanyaannya: "Sudahkah pemerintah setempat menyadari posisi penting mereka dalam mempromosikan wisata di wilayahnya?". Sekarang bukannya zamannya lagi promosi harus dengan media konvensional saja baik dengan bagi-bagi brosur atau memasang spanduk yang jangkaunnya tidak seluas dan seatraktif promosi di internet. Dan secepatnya pemerintah daerah merangkul mereka sebagai ujung tombak tim promosi wisata.**

Pengirim: A. Munfarid