Newsticker

Mengharap Bandung Lebih Ramah Bagi Wisatawan





Minggu, 29 Mei 2016 saya main ke kawasan Alun-Alun Bandung. Sekalian juga ingin menyambangi acara Festival Baso Juara (FBJ) 2016 yang digelar di Jln. Cikapundung Timur (Jln. Dr. Ir. Sukarno). Ada beberapa catatan menarik saat ke kawasan ini. Ini bukan menyangkut acara yang digelar di tempat tersebut, namun pengamatan saya akan sekitar lokasi tempat wisata di pusat kota Bandung tersebut.

Kebetulan saya datang siang hari dan saat sampai di lokasi, ternyata hujan yang lumayan lama. Akhirnya memilih berteduh di area tenda event FBJ. Setelah hujan reda, terlihat pengunjung semakin bertambah mendatangi lokasi. Setelah puas mencicipi baso yang ada di sana, saya kembali nguriling sekitaran lokasi.

Waspada Modus Kejahatan
Menariknya, pas di pinggir Gedung Merdeka (area tempat duduk) terlihat ada aparat keamanan yang sedang menenangkan beberapa cewek ABG yang semuanya nangis tersedu-sedu.

"Tolongin Pak. Kami gak bisa pulang! Uang kami dibawa kabur."
"Kejadiannya di mana?"
"Di Braga Pak. Kita tadi lagi mo foto-fotoan pake HP. Tiba-tiba ada bapak-bapak yang mendatangi kami. Dia ngakunya intel dari kepolisian. Dia nyuruh kami ngumpulin HP, dompet, dan tas. Katanya ada pemeriksaan narkoba. Kami takut Pak, akhirnya kami berikan apa yang dia minta. Eh.. ternyata dibawa kabur!" kata salah seorang anak ABG tersebut sambil sesenggukan.

Beberapa ibu-ibu petugas kebersihan pun ikut menenangkan anak-anak ABG tersebut. Kasihan juga, mereka tidak ada ongkos buat pulang. Anak-anak ABG tersebut terlihat sangat kebingungan. Air mata terus bercucuran, tak peduli pengunjung lain melihat mereka. Petugas keamanan pun lalu menanyai satu per satu seputar kronologis lengkap kejadian yang mereka alami.

Mmmh, ternyata modus kriminal di kawasan tengah kota Bandung ini kerap memakan korban. Dan inilah perlu ekstra hati-hati pada para pengunjung. Terlebih lagi ini kawasan landmark Kota Bandung yang jadi ikon wisata. Mau tak mau ini bisa mempengaruhi citra Kota Bandung sebagai surga wisata.

Malah, bukan hanya modus tersebut. Kelengahan pengunjung pun kadang dimanfaatkan oleh para pelaku aksi kriminal, dari aksi copet hingga embat HP. Untuk embat HP, modusnya dengan pura-pura membantu memotret. Setelah HP dipegang, pelaku langsung membawa kabur. Pemilik HP yang mau dipotret, hanya bisa melongo. Untuk itulah, sangat disarankan kepada pengunjung untuk selalu waspada akan berbagai aksi jahat para pelaku kriminalitas. Memang, hal seperti ini kadang jadi "tradisi" di tempat-tempat wisata di kota lain pun.

Alun-Alun Bandung Butuh Area Parkir
Karena sudah sore, saya berniat pulang dan ke parkiran di area bekas Gedung Palaguna Nusantara. Masya Allah, ternyata pas sampai lokasi parkiran bukan hanya penuh dengan bus-bus dan kendaraan wisata lainnya. Ternyata, hujan yang tadi turun pun membuat area parkir jadi belok alias banyak lumpur. Para pelancong pun terlihat susah berjalan dan kakinya penuh lumpur. Malah, ada yang sampai tiseureuleu alias terpeleset dan bajunya pun kotor.

Dipikir-pikir, masih untung ada area lapangan luas ex Gedung Palaguna Nusantara. Nah, kalo gak ada tempat parkir dadakan ini, dimana mangkalnya bus-bus yang segede Gaban itu? Inilah yang dikeluhkan salah seorang supir bus:

"Ah, gini Bang kalo bawa bus ke Bandung. Susah parkir apalagi tempat kayak di Alun-Alun sini. Memang sih di Bandung ada beberapa tempat wisata yang menyediakan tempat parkir. Namun rata-rata gak representatif. Gak kayak di Bali atau Yogyakarta. Lihat tuh, penumpang yang saya bawa sampai harus melewati genangan lumpur. Kalo bisa, pemerintah Bandung bikinlah tempat-tempat parkir khusus di tempat-tempat wisata," demikian harap Asrul (38 th), sang sopir bus yang datang jauh-jauh dari Jambi.

Hal tersebut diamini juga oleh Wanto (43 th), sopir bus dari Kebumen, Jawa Tengah.
"Iya Kang, kita sopir-sopir ini kadang suka muter-muter dulu cari tempat parkir. Belum lagi macetnya," kata sopir yang sudah menekuni profesinya 10 tahun lebih itu.

Informasi Wisata Bandung
Selain urusan parkir, urusan informasi wisata pun dikeluhkan oleh Linda (28 th), pengunjung asal Kalimantan yang kebetulan sedang main ke Bandung bersama keluarganya. Ia mengaku mendapatkan informasi wisata Bandung dari blog/website dan akun media sosial yang dikelola mandiri oleh blogger/netizen.

"Kadang kalo saya buka website pemerintah Bandung yang berurusan dengan bidang wisata, kok kayaknya gak serius banget ya? Saya kadang susah buat cari informasi, referensi, atau kontak tempat wisata. Untuk review tempat wisata sendiri di situs bandungtourism.com sangat minim. Untung ada blogger-blogger yang suka nulis tentang wisata Bandung. Kalo gak, saya biasa nyari di Instagram atau Twitter. Kalo bisa sih, pemerintah Bandung sendiri lebih aktif di internet menginformasikan seputar wisata di daerahnya. Katanya Walikotanya aktif di media sosial? Kok informasi seputar wisatanya gak keangkat sama anak buahnya?" kata Linda.

Linda pun berharap info peta jalan di Bandung bisa kayak di Yogyakarta. Dimana di sana setiap sudut ada info peta lokasi jalan sehingga wisatawan tidak nyasar. Baginya, jalan-jalan untuk wisata di Bandung masih jauh dari harapan. Maklum saja, lintasan jalan di Bandung pendek-pendek seperti di kawasan Bandung utara dan kerap membingungkan pengunjung luar kota. Belum lagi kemacetan kerap menyergap di beberapa kawasan di Bandung.

Pengirim: Martian.