Newsticker

Pileuleuyan Kang Risnandar




Risnandar, "Beckenbauer Asia dari Persib" itulah julukan legenda mantan pemain Persib ini. Kini, Risnandar Soendoro telah meninggalkan kita semua. Pada Kamis, 3 Maret 2016 pukul 17.34, ia telah berpulang di rumahnya. Pemain belakang Persib ini memang cukup lama berjuang melawan penyakit lambung akut yang dideritanya. Sebelumnya, ia pernah dirawat selama seminggu di RS Sariningsih Bandung. Namun karena meminta pulang, pihak keluarga kemudian membawanya kembali pulang.

Jenazah pemain terbaik Kompetisi Perserikatan tahun 1972-1973 itu disemayamkan di rumah duka di Jalan Linggar Sari Raya No.3 Awiligar Kota Bandung. Rencananya akan dimakamkan pada Jumat (4/3/2016) di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Nagrog Kota Bandung.

Risnandar merupakan salah seorang anggota keluarga Soendoro (almarhum) yang merupakan pendiri dan Ketua Umum Persib Bandung pertama. Dalam mengolah si kulit bunda, ia pernah berposisi pemain sayap kiri, striker, dan libero. Risnandar bersama empat saudara lelakinya Lima orang Soendoro bersaudara tercatat sebagai pemain Persib. Mereka adalah Soenarto Soendoro, Soenaryono Soendoro, Risnandar Soendoro, Giantoro Soendoro, dan Hari Susanto.

Tahun 1966 adalah masa awal kariernya di dunia sepak bola bersama UNI Bandung. Pada 1968, ia bergabung dengan Persib Senior. Ia berposisi sebagai pemain bertahan. Kariernya terus melesat, hingga ia masuk timnas PSSI. Puncak karier Risnandar baru tercapai pada era 70-an. Saat itu, dirinya diberi kepercayaan Pelatih Timnas Wiel Coerver untuk memperkuat Indonesia dalam ajang Pra Olimpiade. Meski  kariernya  sebagai  pemain cukup  bagus,  namun  Risnandar memutuskan  gantung sepatu dalam usia yang masih relatif muda  30 tahun.  Ia  kemudian melanjutkan kiprahnya di  dunia  sepak  bola sebagai pelatih.

Begitu terpesonanya Wiel saat mengamati skill yang dimiliki Risnandar hingga menyebutnya sebagai Beckenbauer Asia. Di kancah sepak bola nasional pula, ia menjadi pemain terbaik Kompetisi Perserikatan 1972-1973. Ia mempu menyingkirkan nama-nama  hebat seperti Iswadi Idris, Andjas Asmara, dan Rusdi Bahalwan. Namun, dia gagal membawa Persib juara di Kompetisi Perserikatan ketika bakatnya berada di puncak.

Ayah empat anak ini kemudian menjadi pelatih tim yang dibelanya dan  membawa Persib kembali promosi ke divisi utama pada tahun 1983 setelah lima musim terdampar di Divisi I PSSI. Masa kedua kepelatihannya di Tim Maung Bandung pada musim 1995-1996 yang membawa juara Liga Indonesia I itu ke babak 12 besar. Waktu itu, ia terpilih menjadi pelatih kepala Persib menggantikan mantan pelatih terbaik Asia 1995, Indra Tohir. Dalam menjalankan tugasnya, Risnandar dibantu kedua asistennya, yakni Encas Tonif dan Dedi Sutendi. Almarhum pun sempat menangani tim Persikab Kabupaten Bandung.