Informasi

Wacana Pembangunan LRT, DPRD Kabupaten Bandung Akan Minta Keterangan Pemprov Jabar




Proses  pembangunan kereta cepat yang peletakan batu  pertamanya dilakukan  Presiden Jokowi, beberapa waktu lalu, saat  ini  belum jelas kelanjutannya karena ada masalah dengan analisis mengenai dampak lingkungan (amdal). Demikian pula dengan pembangunan  moda transportasi  massal yang akan dijadikan pendukung  pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung itu, salah satunya light rail transit (LRT) di Kabupaten Bandung.

Kawasan yang Dilalui
Oleh karena itu, DPRD Kabupaten Bandung berencana meminta  keterangan  dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat  mengenai  pembangunan sarana  transportasi massal ini dan kawasan mana saja  yang  akan dilaluinya. Demikian diungkapkan salah seorang anggota Komisi  C DPRD Kabupaten Bandung, Firman B. Soemantri, Senin (15/2/2016).

Proyek besar pemerintah pusat ini, katanya, membutuhkan perhatian serius  dari  semua  pihak. Namun hingga  saat  ini, Kementerian Perhubungan belum membahas ini bersama DPRD dan Pemerintah Kabupaten Bandung. Pengkajian sangat perlu dilakukan karena LRT  akan menjadi penghubung stasiun terakhir kereta cepat  Jakarta-Bandung yang direncanakan dibangun di Desa Tegalluar, Bojongsoang, dengan wilayah-wilayah lainnya di Kabupaten Bandung. Antara lain Kecamatan Majalaya, Cileunyi, Baleendah, Banjaran, dan Soreang.

Menurutnya, jalur LRT bisa menggunakan lahan milik PT Kereta  Api Indonesia  (KAI), pemerintah, dan masyarakat. Namun  untuk  itu, tentu  saja membutuhkan pengkajian yang intensif dan serius  agar tidak menimbulkan gejolak di tengah masyarakat. Apalagi di  lahan milik PT KAI, kini sudah banyak berdiri perumahan warga, sehingga membutuhkan banyak waktu dan biaya untuk membebaskannya.

Demikian pula apabila jalur ini dibangun di jalan raya, akan  menimbulkan kesemrawutan  dan  kemacetan yang luar biasa karena  arus  lalu lintas saat ini sudah sangat padat. Karena itu, ia mengusulkan di kawasan perkotaan yang padat, jalur LRT bisa melalui  terowongan bawah tanah atau rel layang seperti monorel.

Selain  itu,  pihaknya  hingga saat ini  belum  mengetahui  siapa investor  yang  akan menangani proyek ini. Sebagai  proyek  besar yang akan menghubungkan daerah Majalaya, Soreang, dan  Banjaran, pembangunan LRT dipastikan akan menyedot biaya besar dan memengaruhi keadaan sosial masyarakat.