Newsticker

Minimalisasi Prostitusi, Pemkot Bandung Tata Saritem




Apabila  Pemerintah Provinsi DKI Jakarta saat ini tengah  bersiap menertibkan  kawasan  lokalisasi Kalijodo, maka  Pemerintah  Kota Bandung pun sedang berusaha mengikis habis masalah prostitusi  di kawasan  yang dulu merupakan lokalisasi prostitusi di  Kota  Bandung, Saritem. Menurut Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil di  Balai Kota  Bandung,  Senin (22/2/2016), pihaknya terus berkoordinasi dengan Polrestabes Bandung dalam masalah Saritem ini.

Kredit Melati
Selain melakukan penertiban untuk meminimalisasi kegiatan prostitusi, Emil  juga menyatakan pihaknya  melakukan  solusi  ekonomi melalui peluncuran Kredit Melati dan pasar tematik emas. Emil menyatakan, saat ini Saritem sudah tidak bisa disebut sebagai lokalisasi lagi karena sejak dibubarkan beberapa waktu  lalu, hanya ada satu dua orang yang menjalankan aktivitas maksiat  itu. Suatu  tempat bisa dikatakan lokalisasi prostitusi, menurut  pria yang digadang-gadang akan menjadi penantang Ahok dalam Pilgub DKI Jakarta ini, bila jumlah pelakunya banyak dan terkoordinasi. Yang ada saat ini hanya orang-orang yang bandel.

Ia menyatakan akan melakukan berbagai cara untuk menekan prostitusi. Meski tidak bisa menjanjikan untuk  menghilangkan  prostitusi, Emil bertekad melakukan tugasnya sebagai wali  kota  untuk meminimalisasi kegiatan maksiat itu. Apalagi Islam yang merupakan agama  yang paling banyak dianut bangsa Indonesia, tidak  merekomendasikan lokalisasi.

Usaha lain  selain penertiban, imbuh Emil, adalah  menggulirkan program  Kredit  Melati yang ditujukan bagi warga  Saritem.  Emil menyatakan akan meminta laporan berapa banyak Kredit Melati  yang diserap warga Saritem dari 7.000 kredit yang diluncurkannya.

Pasar Tematik Emas
Solusi  lain yang diberikan Pemerintah Kota Bandung, kata Emil, adalah rencana pembangunan pasar tematik emas. Meski demikian, pembangunannya  masih menunggu waktu karena perusahaan  franchise spesialisasi emas ini baru melakukan ekspansi di wilayah  Kabupaten Bandung. Emil berjanji akan menarik perusahaan itu ke Saritem setelah  pembangunan  franchise  di  Kabupaten  Bandung  selesai. Menurutnya, pembangunan pasar emas merupakan yang paling  solutif ditawarkannya untuk kawasan Saritem, namun memang harus menunggu.

Salah satu kesulitan untuk mengubah "wajah" Saritem adalah  masalah  pembebasan  tanah. Selain sebagian besar  tanah  di  Saritem merupakan lahan hak milik pribadi, masyarakat di sana  kebanyakan juga  enggan  menjual tanahnya kepada  Pemkot  Bandung.  Kalaupun bersedia  menjual  tanahnya, maka harga  yang  ditawarkan  sangat fantastis.

Hingga  saat ini, Pemerintah Kota Bandung sudah membeli sebanyak 21  bangunan  di Saritem. Wali Kota Bandung,  Ridwan  Kamil  akan memanfaatkan lahan itu untuk ruang terbuka hijau (RTH) dan  rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Meski demikian, sampai saat  ini belum  ada upaya nyata untuk menata lahan yang  sudah  dibebaskan Pemkot Bandung. Barangkali penataan baru akan bisa dimulai apabi¬la lahan warga sudah bisa dibebaskan.

Untuk  urusan  pembebasan lahan, langkah pemerintah  kota memang masih  tersendat. Meski  demikian,  langkah-langkah  lain  untuk menata  masalah  spiritual dan keterampilan warga  Saritem  sudah lebih maju. Kegiatan keagamaan dan pelatihan yang dilakukan Dinas Sosial  Kota  Bandung di kawasan tersebut sudah  berjalan. Upaya untuk memakmurkan masjid di Saritem juga sudah menampakkan arah yang  menggembirakan.